Denisovan, Kerabat Manusia yang Mulai Menampakkan Wujudnya
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 07:42 WIB | Oleh: Haryo BronoUntuk menemukan Denisovan di Bianfu, para peneliti harus terlebih dahulu memilah lebih dari 60.000 fragmen tulang yang ditemukan dari kawasan gua. Sebagian besar berasal dari hewan dan telah mengalami fragmentasi selama puluhan hingga ratusan ribu tahun. Bentuk aslinya pun telah banyak hilang.
Pekerjaan tersebut tidak ubahnya mencari beberapa keping penting di antara tumpukan pecahan yang sangat besar. Para peneliti mula-mula memilah fragmen berdasarkan bentuk dan karakteristik fisiknya. Fragmen yang diduga berasal dari hominin kemudian diperiksa menggunakan analisis protein untuk menentukan identitasnya.
Hao Li, arkeolog dari Institute of Tibetan Plateau Research, Chinese Academy of Sciences, yang turut menulis salah satu penelitian, mengatakan tim pada awalnya berhasil mengidentifikasi beberapa gigi yang terpisah. Dari kumpulan besar fosil hewan, mereka kemudian menemukan fragmen tulang yang ternyata berasal dari Denisovan.
Hasilnya adalah tujuh fosil yang mewakili sedikitnya empat individu. Dua fragmen tengkorak dan empat gigi memberikan informasi mengenai anatomi mereka, sementara bagian tulang lengan bawah membuka petunjuk yang sama sekali baru mengenai bentuk tubuh Denisovan.
Dalam penelitian manusia purba, jumlah tersebut mungkin tampak kecil. Namun, ketika sebuah kelompok hanya meninggalkan sedikit fosil, setiap potongan tulang memiliki nilai yang sangat besar. Satu fragmen dapat memberikan informasi yang selama puluhan tahun tidak tersedia bagi ilmuwan.
Sebuah Tulang Lengan yang Menjadi Petunjuk
Salah satu temuan paling penting di Bianfu adalah bagian dari tulang radius atau tulang lengan bawah. Fosil tersebut merupakan tulang radius pertama yang berhasil diidentifikasi sebagai milik Denisovan.
Bentuk tulang itu memiliki sejumlah kesamaan dengan tulang lengan Neanderthal. Namun, secara keseluruhan, karakteristiknya lebih dekat dengan manusia modern. Perbedaan semacam ini penting karena bentuk tulang dapat memberikan petunjuk mengenai cara tubuh bergerak dan aktivitas yang dilakukan pemiliknya.
Paleogenetikawan Qiaomei Fu dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology, Chinese Academy of Sciences, yang menjadi salah satu penulis kedua penelitian, mengatakan bentuk tulang tersebut kemungkinan memberikan keuntungan fungsional untuk melakukan manipulasi yang ringan dan presisi.
Artinya, fragmen kecil itu mungkin menyimpan petunjuk tentang kemampuan tangan Denisovan ketika menggunakan benda atau perkakas. Temuan tersebut juga membantu memperluas gambaran mengenai anatomi mereka yang selama ini harus disusun dari sangat sedikit bukti.
Sayangnya, fosil-fosil Bianfu tidak menyimpan DNA yang dapat dianalisis. Protein yang tersusun dari asam amino masih bertahan, tetapi DNA yang lebih rapuh telah hilang. Menurut Fu, kondisi Gua Bianfu yang relatif tua dan hangat kemungkinan tidak mendukung pelestarian DNA dalam jangka waktu yang begitu panjang.
Namun, ketiadaan DNA tidak mengurangi pentingnya penemuan tersebut. Untuk pertama kalinya, anatomi Denisovan dapat dipelajari melalui tulang lengan yang sebelumnya belum pernah ditemukan.
Gua yang Menjadi Tempat Membuat Perkakas
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!