Rupiah Berisiko Melemah - 05 Oktober 2026
📅 Senin, 05 Okt 2026, 08:12 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Rupiah diperkirakan masih menghadapi risiko pelemahan hingga menembus level psikologis baru.
Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada data lain ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama perkembangan pasar tenaga kerja.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi melihat peluang rupiah melemah terhadap dollar kembali terbuka.
Dia menambahkan fokus pasar akan tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) AS yang menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral The Fed.
Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS menambah hampir 90.000 lapangan kerja pada September, turun dari 162.000 pada Agustus.
Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,1 persen.
Ibrahim menambahkan jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan, kondisi tersebut berpotensi kembali mengerek ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (5/10), bergerak fluktuatif di kisaran 17.750-18.050 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (2/10), bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.882 rupiah per dollar AS.
Ibrahim mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/ PCE) utama AS naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus lalu.
Angka ini berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!