IHSG Hari ini Melemah, Dipengaruhi Harga Minyak dan Ekspektasi the Fed
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 10:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (11/9) pagi dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.552,79. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,28 poin atau 0,50 persen ke posisi 652,70.
IHSG bergerak melemah mengikuti bursa kawasan Asia dan global, dipicu oleh naiknya harga minyak mentah global ditambah ekspektasi The Fed akan bersikap hawkish pada pertemuan September 2026.
"Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menguji 6.673-6.723, dengan resistance berikutnya 6.859. Sebaliknya, jika breakdown di bawah 6.520, koreksi berpotensi menuju 6.420, dengan support berikutnya 6.377," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari mancanegara, data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dengan PPI headline Agustus 2026 meningkat 0,4 persen month to month (mtm) dan 5,4 persen year on year (yoy), sementara PPI inti naik 0,2 persen (mtm) dan 4,6 persen (yoy).
Data tersebut merubah ekspektasi, dengan pasar memperkirakan The Fed memiliki alasan lebih kuat untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2026, terutama dengan kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih relatif resilien.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 16 September 2026 meningkat menjadi sekitar 73 persen, dari sekitar 64 persen sebelum rilis PPI.
Sementara itu, Liza mengatakan risiko geopolitik tetap menjadi perhatian setelah eskalasi konflik antara AS dengan Iran mendorong kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan energi global.
Harga minyak melonjak tajam setelah meningkatnya ketegangan tersebut, dengan minyak Brent melonjak 8,7 persen ke level 109,97 dolar AS barel, sementara WTI naik 8,54 persen menuju 104 dolar AS per barel.
"Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dalam jangka lebih panjang sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara," ujar Liza.
Dari dalam negeri, Liza mengatakan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN, terutama melalui kenaikan subsidi dan kompensasi energi, mengingat asumsi harga minyak dalam APBN berada di sekitar 90 dolar AS per barel.
Namun demikian, menurutnya, ruang fiskal dinilai masih cukup memadai, tercermin dari defisit APBN hingga Juli 2026 sebesar 0,91 persen PDB dan sekitar 0,95 persen PDB pada Agustus, sehingga pemerintah belum melihat kebutuhan untuk menambah kuota subsidi BBM.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah dapat menggunakan dana cadangan APBN untuk mendukung program pembukaan rekening bagi masyarakat secara bertahap, dengan target hingga 200 juta rekening.
Program tersebut diperkirakan baru mulai dilaksanakan pada 2027 karena masih membutuhkan persiapan dan integrasi data Dukcapil, perbankan, serta Bank Indonesia (BI).
Purbaya menilai kebutuhan anggaran kemungkinan tidak mencapai Rp11 triliun, karena masyarakat yang telah memiliki rekening di bank penunjuk tidak perlu membuka rekening baru
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!