Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AI Dilatih dengan Data NASA, Swiss Kembangkan Prakiraan Bencana Lebih Cepat untuk Selamatkan Nyawa

📅 Jumat, 11 Sep 2026, 15:25 WIB | Oleh: Tim Penulis

Menurut Schulthess, di sinilah kedekatan dengan daya komputasi besar superkomputer Alps menjadi penting.

"Yang penting adalah apakah Anda dapat memindahkan data dalam hitungan detik atau harus menunggu berhari-hari sampai data tersebut tiba," katanya.

Model statistik baru berbasis AI dapat bekerja jauh lebih cepat dibandingkan metode tradisional yang menggunakan persamaan matematika untuk mensimulasikan proses kompleks di lautan dan atmosfer.

"Kita sedang menyaksikan revolusi dalam prakiraan cuaca," kata Knutti, menyebut model statistik tersebut "sangat, sangat kuat" dan "luar biasa cepat".

Berpotensi Selamatkan Nyawa

Berbeda dengan prakiraan tradisional yang membutuhkan waktu berjam-jam, model statistik berbasis pengenalan pola dapat menjalankan prakiraan cuaca global untuk beberapa hari dalam waktu sekitar satu menit.

Meski mahal dalam proses pelatihannya, model tersebut relatif murah untuk dijalankan sehingga prakiraan dapat dilakukan berulang kali, bahkan setiap beberapa menit, untuk melihat apakah pola cuaca tertentu muncul.

"Hal itu memungkinkan kita membangun sistem peringatan dini untuk menyelamatkan nyawa," kata Knutti.

Tidak semua bencana dapat diprediksi. Namun, sejumlah bencana yang berkaitan dengan kondisi geologi, seperti tanah longsor dan runtuhnya gletser, dapat dideteksi lebih awal melalui data apabila tersedia kemampuan untuk mengenali polanya.

Knutti mencontohkan desa Blatten di Swiss yang hancur akibat runtuhnya gletser pada Mei tahun lalu. Perubahan tersebut sebenarnya telah terlihat dalam data satelit lebih dari setahun sebelum kejadian.

Berkat pemantauan secara intensif, otoritas Swiss mengevakuasi warga desa tersebut seminggu sebelum gletser runtuh sehingga korban jiwa dalam jumlah besar dapat dihindari.

Pemantauan yang lebih ketat juga berpotensi memberikan peringatan sebelum runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-Tiongkok pada 26 Agustus.

Analisis citra satelit menunjukkan adanya sejumlah tanda peringatan sebelum bencana tersebut. Jika tanda-tanda itu berhasil dikenali lebih awal, kawasan tersebut dapat ditetapkan sebagai lokasi yang membutuhkan pemantauan lebih ketat.

Knutti mengatakan kejadian tersebut menunjukkan bagaimana data satelit dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem pemantauan bencana secara sistematis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Nasional
Perum Bulog Gandeng TNI Per...
Rona
Layanan Rail Clinic dan Lib...
Megapolitan
Pemugaran Rumah Raden Saleh...
Ekonomi
Indeks keyakinan konsumen A...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.