Erupsi Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi dan Kesiapan Evakuasi Darurat
📅 Rabu, 09 Sep 2026, 18:12 WIB | Oleh: Haryo BronoAbu vulkanik juga dapat mengganggu kendaraan, mesin, sistem ventilasi, dan perangkat elektronik. Dampak tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kelancaran operasional apabila tidak diantisipasi dalam rencana kesiapsiagaan.
Di sisi lain, setiap keputusan terkait aktivitas operasional maupun evakuasi perlu didasarkan pada informasi yang terverifikasi. Perusahaan dan masyarakat diimbau mengacu pada informasi dari otoritas resmi, bukan informasi yang belum diketahui sumber maupun kebenarannya.
Evakuasi Membutuhkan Komando dan Pendataan
Ketika situasi dinilai membutuhkan evakuasi, prosedur tanggap darurat harus segera diaktifkan. ERT melakukan verifikasi terhadap ancaman, berkoordinasi dengan manajemen dan otoritas terkait, kemudian menyampaikan instruksi melalui sistem komunikasi darurat yang telah ditentukan.
Pekerja selanjutnya diarahkan menuju assembly point atau lokasi aman melalui jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Dalam proses tersebut, pekerja yang membutuhkan bantuan khusus menjadi salah satu prioritas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apabila kondisi memungkinkan, penyisiran area dapat dilakukan untuk memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal. Setelah seluruh pekerja tiba di titik kumpul, dilakukan head count atau pendataan personel.
Jika terdapat personel yang belum teridentifikasi, informasi tersebut harus segera diteruskan kepada tim terkait untuk ditindaklanjuti. Namun, proses pencarian tetap harus memperhitungkan kondisi lapangan dan keselamatan petugas agar tidak menimbulkan korban tambahan.
ERT juga memiliki peran dalam memberikan pertolongan pertama dan melakukan triase awal apabila terdapat korban. Bila diperlukan, koordinasi dapat dilakukan dengan fasilitas kesehatan, pemadam kebakaran, BPBD, aparat keamanan, maupun instansi terkait.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pekerja yang telah dievakuasi perlu tetap berada di lokasi aman sampai terdapat informasi resmi mengenai perkembangan situasi. Keputusan untuk kembali ke tempat kerja atau melakukan relokasi harus mempertimbangkan penilaian risiko dan arahan otoritas.
“Evakuasi bukan sekadar memindahkan orang dari satu lokasi ke lokasi lain. Harus ada komando, jalur yang aman, komunikasi, pendataan personel, penanganan korban, hingga koordinasi dengan pihak eksternal,” kata Panji.
Karena itu, menurut dia, prosedur tanggap darurat perlu diuji melalui emergency drill secara berkala. Latihan memungkinkan pekerja dan tim respons memahami peran masing-masing sehingga tidak terjadi kebingungan ketika keadaan darurat yang sebenarnya terjadi.
ERT sebagai Bagian dari Kesiapsiagaan Perusahaan
Kesiapan menghadapi bencana juga membutuhkan pembentukan sistem respons yang dapat beradaptasi dengan berbagai skenario. Melalui layanan Emergency Response Teams (ERT), Nawakara menyatakan mendukung perusahaan dalam melakukan identifikasi dan asesmen risiko, menyusun Emergency Response Plan, mempersiapkan personel respons, menjalankan simulasi dan emergency drill, serta memberikan dukungan dalam evakuasi dan penanganan awal insiden.
Tim respons juga dapat berperan dalam koordinasi di lapangan ketika perusahaan harus berhadapan dengan kondisi yang membutuhkan keterlibatan sejumlah pihak eksternal.
Keberadaan sistem tersebut tidak hanya relevan untuk menghadapi bencana alam seperti erupsi gunung api, tetapi juga dapat diterapkan untuk berbagai keadaan darurat lain, termasuk kebakaran, kecelakaan kerja, dan insiden yang berpotensi mengganggu keselamatan pekerja maupun operasional perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!