Pasar Waspadai Data AS
📅 Senin, 07 Sep 2026, 08:00 WIB | Oleh: Muchamad IsmailRupiah masih menghadapi tekanan pada awal pekan karena pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama indikator ketenagakerjaan.
Jika data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter ketat dapat menguat, mendorong dollar AS naik dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memperkirakan rupiah berpotensi menghadapi tekanan apabila data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan kinerja di atas ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging markets.
Selain itu, Syafruddin mengingatkan, kenaikan harga minyak Brent dan memanasnya dinamika geopolitik Timur Tengah dapat memperbesar tekanan eksternal terhadap rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kombinasi keduanya berpotensi meningkatkan biaya impor energi sekaligus mendorong penguatan dollar AS, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi semakin terbatas.
Karenanya, Syafruddin memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (7/9), bergerak flukuatif di kisaran 17.590 – 17.730 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (4/9), bergerak menguat 37 poin atau 0,21 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.642 rupiah per dollar AS.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dollar AS.
“Meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dollar AS lebih lanjut, di tengah berlanjutnya apresiasi yen, turut mendukung tren penguatan rupiah,” ujarnya di Jakarta.
Dia menerangkan bahwa investor memandang potensi intervensi yen secara terkoordinasi dan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) sebagai faktor yang dapat semakin menurunkan permintaan terhadap dollar AS.
Karena itu, investor mengalihkan sebagian asetnya dari dollar AS ke mata uang Asia dan emerging markets, sehingga mendukung penguatan rupiah.
Di sisi lain, pernyataan dovish pejabat The Fed Christopher Waller yang menyampaikan pandangan bahwa dirinya cenderung mendukung mempertahankan stance kebijakan saat ini apabila inflasi terus mengalami moderasi, turut mempengaruhi penguatan rupiah.
“Pernyataan dovish tersebut menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) September 2026, sehingga semakin menekan permintaan terhadap dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!