Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Keekonomian Pertamax Diproyeksi Rp16.800 per Liter, Pemerintah Pilih Jaga Daya Beli Masyarakat

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 22:34 WIB | Oleh:
Harga Keekonomian Pertamax Diproyeksi Rp16.800 per Liter, Pemerintah Pilih Jaga Daya Beli Masyarakat Doc: ANTARA/Makna Zaezar
Ket. Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax kepada konsumen di SPBU Ayasa Majapahit, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/7).

JAKARTA - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan harga keekonomian Pertamax berada di kisaran Rp16.700–Rp16.800 per liter, sementara harga jual Pertamax di Jakarta masih dipertahankan Rp15.950 per liter.

“Artinya, dengan harga Pertamax yang masih Rp15.950 per liter, ada selisih sekitar Rp750–Rp900 per liter yang secara ekonomi belum tercermin dalam harga jual,” kata Yusuf dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Kamis (3/9).

Yusuf mengatakan perhitungan harga keekonomian tersebut berdasarkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, serta pajak yang berlaku.

Dengan demikian, terdapat selisih cukup besar antara harga keekonomian dan harga jual yang diterima masyarakat.

Menurut Yusuf, keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax pada awal September merupakan langkah yang dapat dipahami sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut membuat konsumen belum sepenuhnya menanggung kenaikan biaya keekonomian BBM nonsubsidi tersebut.

“Menurut saya, keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax di awal September ini merupakan pilihan yang cukup sadar untuk menjaga daya beli dan kondisi sosial masyarakat,” ujar Yusuf.

Meski Pertamax bukan BBM bersubsidi, Yusuf menjelaskan selisih antara harga keekonomian dan harga jual tetap harus ditanggung dalam struktur keuangan Pertamina.

Dalam jangka pendek, kondisi tersebut masih dapat dikelola, terutama karena harga sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya sudah mengalami penyesuaian.

Namun, jika harga Pertamax terus dipertahankan di bawah harga keekonomiannya dalam waktu panjang, tekanan terhadap Pertamina dapat meningkat. Yusuf menyebut kondisi tersebut berpotensi menekan margin, arus kas, laba, hingga ruang investasi perusahaan, terutama di sektor hulu dan kilang.

Harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 September 2026 mengalami perubahan pada sejumlah produk. Pertamina mengumumkan kenaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi, yakni Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green.

Seperti di Jabodetabek, tercatat harga BBM jenis Dexlite (CN 51) menjadi Rp23.700 per liter mulai 1 September, dari Rp19.700 per liter. Untuk Pertamina Dex (CN 53) juga naik dari Rp21.150 per liter menjadi Rp25.200 per liter mulai 1 September 2026.

Lebih lanjut, harga Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp18.300 per liter pada Agustus menjadi Rp19.600 per liter mulai 1 September 2026, dan harga Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 per liter menjadi Rp19.150 per liter yang berlaku mulai 2 September 2026.

Sementara itu, harga Pertamax tetap di level Rp15.950 per liter sejak 1 Agustus 2026. Harga BBM penugasan dan subsidi tidak mengalami perubahan harga, yaitu Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Lulusan Banyak, Tapi Tak Sesuai Kebutuhan Industri? Menaker Ungkap Solusinya
    Artikel yang sangat edukatif dalam membedah akar permasalahan ...
  • Kemenperin Perkuat Industri Otomotif Nasional lewat Peningkatan TKDN dan SNI
    Saya sangat sependapat dengan pandangan komprehensif Bapak Saleh ...
  • Pelumasan Sintetis Dorong Produktivitas dan Daya Saing Industri Plastik
    Informasi spesifik mengenai penghematan konsumsi energi hingga 10 ...
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
Nasional
Makin Jos, Anggaran Alat Ko...
Megapolitan
Polisi Buru Komplotan Pemal...
Luar Negeri
Ikan Pelangi Endemik Austra...
Advertisement
WMO dan PBB Peringatkan El Niño Meningkat Menuju Level Sangat Kuat, Timbulkan Risiko Cuaca Ekstrem hingga 2027 dan Dampaknya pada Masyarakat Rentan

WMO dan PBB Peringatkan El Niño Meningkat Menuju Level Sangat Kuat, Timbulkan Risiko Cuaca Ekstrem hingga 2027 dan Dampaknya pada Masyarakat Rentan

03 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.