Program 'Gempolin' Bikin Warga Gempolsari Bandung Antusias Kelola Sampah

Sabtu, 22 Agu 2026, 20:20 WIB

BANDUNG - Pengelolaan sampah di Kelurahan Gempolsari mulai diarahkan dari sekadar membuang menjadi memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali. Melalui program Gempolin (Gerakan Mengolah Data, Pilah, Olah, Manfaatkan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat), masyarakat tidak hanya didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah, tetapi juga terlibat dalam pencatatan dan pengaturan pengangkutan sampah melalui aplikasi.

Melalui aplikasi tersebut, warga bisa memasukkan jenis dan perkiraan berat sampah, menentukan titik pengumpulan, mengunggah foto, kemudian mengajukan permintaan pengambilan. Sampah yang telah dipilah pun tidak perlu menumpuk di rumah karena dapat dikumpulkan pada titik yang telah ditentukan untuk kemudian diangkut oleh petugas.

Ket. Foto: — Sumber: Humas Kota Bandung

Salah seorang warga RT 04 RW 04 Kelurahan Gempolsari, Hesti, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Menurut dia, warga di lingkungannya mulai terbiasa memilah sampah, meski masih membutuhkan pendampingan dalam proses pengolahannya.

“Alhamdulillah sih terbantu sekali. Soalnya warga sini baru bisa memilah, belum bisa mengolah. Jadi dengan adanya Gempolin ini terbantu sekali,” ujar Hesti, Kamis (20/8) lalu.

Di RT 04 RW 04, terdapat beberapa titik pengumpulan yang menjadi lokasi pengambilan sampah oleh petugas. Warga cukup mengisi data sampah yang akan diangkut melalui aplikasi dan meletakkannya di titik kumpul yang telah ditentukan.

Penerapan Gempolin juga berjalan bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat. Warga RT 09 RW 10, Ibu Iim mengatakan, sosialisasi dilakukan secara bertahap karena belum seluruh warga terbiasa memilah sampah berdasarkan jenisnya. Pengelolaan sampah organik di lingkungannya juga mulai dilakukan melalui sistem tersebut.

“Karena warga itu tidak semua memilah. Jadi, secara bertahap mereka dari kelurahan terus mensosialisasikan bahwa sampah itu harus dipilah menurut jenisnya, organik dan non-organik,” tutur Iim.

Sementara itu, warga RT 08 RW 10, Ibu Yuliah, melihat Gempolin tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk meminta pengangkutan sampah. Pencatatan melalui aplikasi dan keberadaan titik kumpul dinilai membantu membuat proses pengambilan sampah lebih teratur. Warga dapat mencantumkan lokasi, jumlah, jenis sampah, hingga foto sebelum mengirimkan permintaan pengambilan.

Menurut Yuliah, sistem tersebut membantu petugas mengetahui jumlah sampah yang harus diangkut sehingga proses pengangkutan dapat disesuaikan dengan jumlah petugas yang bertugas.

“Buat menertibkan aja sih kayaknya gitu, menertibkan berapa banyak sampah yang sudah diolah, terus berapa banyak mungkin volume yang bisa diolah sama tim Gober dari Kelurahan Gempolsari,” ujar Yuliah.

Pengelolaan sampah melalui Gempolin tidak berhenti pada proses pengangkutan, tetapi berlanjut hingga tahap pemanfaatan. Sampah organik yang dikumpulkan di antaranya dimanfaatkan di kawasan Buruan Sae Mekarwangi RW 04 untuk diolah menjadi pupuk bagi tanaman.

Sedangkan Ketua Buruan Sae Mekarwangi, Deny menjelaskan, hasil pengolahan sampah organik tersebut digunakan untuk mendukung kebun yang ditanami berbagai jenis sayuran, seperti sawi, pakcoy, cabai, terung, hingga umbi-umbian.

Hasil kebun selanjutnya dapat dirasakan kembali oleh masyarakat. Sebagian hasil panen diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan, sementara hasil yang berlebih dapat dijual. Pendapatan dari penjualan tersebut kemudian digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan kebun, termasuk membeli pupuk.

Pemanfaatan hasil pengolahan sampah juga dirasakan warga di kawasan Buruan Sae. Ibu Heti dari RT 01 RW 05 menjelaskan bahwa sampah yang telah dipisahkan, terutama sampah organik, kemudian diolah hingga menjadi kompos.

Hasil kebun selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk mendukung penanganan stunting dan dibagikan kepada warga. Jika hasil panen berlebih, sebagian dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan kebun lainnya.

Gempolin pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang penggunaan aplikasi. Di balik data yang dimasukkan warga, terdapat kebiasaan baru untuk memilah sampah dari rumah, sistem pengangkutan yang lebih teratur, serta upaya mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat bagi masyarakat. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Wali Kota Bandung Tegaskan Pengelolaan Kota Harus Berbasis Data

Pemkot Buka Bandung Great Sale 2026

Program "Gempolin" Bikin Warga Gempolsari Bandung Antusias Kelola Sampah

Karhutla Masih Berkobar di Way Kambas, Api Merembet ke Kawasan Konservasi.

Karhutla Kalteng Makin Serius, Presiden Prabowo Tambah 4 Helikopter Water Bombing

Presiden Prabowo Subianto Bertekad Hentikan Perluasan Karhutla dan Titik Api Baru di Kalimantan.

Presiden Prabowo Tambah 4 Helikopter Water Bombing untuk Padamkan Karhutla Kalteng.

Wali Kota: Bandung Tegaskan Kontribusi sebagai Ibu Kota Provinsi

Museum ITB Hadirkan Wisata Edukatif di Bandung

Pemkot Siapkan Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung Jadi Etalase UMKM

OJK Sebut Kota Bandung Layak Jadi “Role Model” Pemberdayaan UMKM

Disbudpar: Bandung Creative Hub Jadi  Ruang Kreatif Gratis untuk Tumbuhkan Talenta Kota Bandung

85 Ribu Hektare Kawasan Konsesi Perusahaan Terbakar akibat Karhutla.

Wali Kota Pontianak Apresiasi Relawan Tangani Karhutla dan Dampak Kualitas Udara.

Polres Tanah Laut Tingkatkan Penanganan Karhutla, Pemadaman Dipercepat.

357,59 Hektare Terdampak Karhutla, BPBD Banjarbaru Perkuat Penanganan.

Cegah Karhutla Meluas, Sekolah di Jambi Diimbau Gelar Shalat Istisqa.

Presiden Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum bagi Pelaku Karhutla di Kalimantan.

Yura Yunita Bikin Penonton Tegang! Terbang sebagai Mahadewi, Ternyata Naik Motor di Balik Panggung

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kolom Abu 400 Meter! Nelayan dan Wisatawan Diminta Waspada

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.