Krisis Iklim Picu Rekor Runtuhan Batu di Pegunungan Alpen
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 00:20 WIB | Oleh: Tim RedaksiEs tersebut berfungsi seperti perekat alami yang membantu menjaga struktur pegunungan tetap kokoh.
“Es tersebut bertindak seperti semacam semen yang menyatukan pegunungan,” kata Ravanel.
Ketika suhu meningkat, es yang berada di dalam retakan batu dapat mencair.
Kondisi tersebut mengurangi daya rekat alami pada batuan sehingga bagian-bagian gunung menjadi lebih mudah terlepas dan jatuh sebagai runtuhan batu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain pencairan permafrost, mencairnya gletser juga turut meningkatkan risiko.
Gletser selama ini memberikan tekanan yang membantu menstabilkan dinding batu.
Ketika gletser kehilangan ketebalan akibat suhu yang semakin panas, tekanan itu ikut berkurang dan membuat batuan lebih rentan runtuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun suhu di wilayah dataran tinggi diperkirakan mulai menurun dalam beberapa hari mendatang, kondisi tersebut belum berarti kawasan pegunungan akan segera kembali stabil.
Ravanel menjelaskan panas yang terakumulasi selama musim panas masih dapat meresap jauh ke dalam tanah meskipun permukaannya kembali membeku.
Risiko Pendaki
Meningkatnya ketidakstabilan batuan menimbulkan risiko serius bagi pendaki gunung dan wisatawan yang beraktivitas di kawasan Alpen.
Sejumlah pendaki dilaporkan meninggal akibat runtuhan batu sejak awal musim pendakian tahun ini.
Pada Juli, dua wisatawan asal Republik Ceko tewas akibat runtuhan batu di jalur yang paling banyak digunakan untuk mendaki Mont Blanc.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!