Lebih dari 100 Orang Tewas Tertimbun Tambang Emas yang Longsor di Afrika Tengah
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 21:34 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBANGUI — Lebih dari 100 orang tewas setelah tambang emas tradisional di Desa Zamboye, Republik Afrika Tengah, runtuh akibat tanah longsor. Jumlah korban masih berpotensi bertambah karena proses pencarian dan evakuasi terus berlangsung.
Dari The Guardian, peristiwa terjadi pada Selasa (18/8) sore di Zamboye, sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua dan tidak jauh dari perbatasan Kamerun.
Tanah longsor menyebabkan sejumlah bagian tambang runtuh dan menimbun para penambang yang sedang bekerja di dalam maupun sekitar lokasi. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan material longsoran menutupi area tempat para penambang berada.
Jaksa setempat menyatakan sejumlah orang masih terjebak di bawah material longsoran. Gervais Ganagoroh, relawan Palang Merah yang ikut dalam operasi penyelamatan, mengatakan lebih dari 100 jenazah telah ditemukan.
Jumlah tersebut juga dikonfirmasi pejabat senior asosiasi pertambangan setempat kepada Reuters.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang jaksa dari Baboua menyebut penyebab awal insiden diduga berkaitan dengan runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah yang digunakan para penambang.
“Tanah benar-benar ambruk dan menimbun orang-orang,” kata seorang penambang bernama Cedric Mbango kepada AFP. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai sebuah bencana.
Tim penyelamat masih bekerja untuk mengevakuasi korban dan mencari kemungkinan adanya penambang yang selamat. Jumlah orang yang berada di lokasi saat kejadian belum diketahui secara pasti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para korban diduga berasal dari Republik Afrika Tengah dan Kamerun. Pemerintah wilayah Timur Kamerun menyatakan sedikitnya tiga warganya telah diidentifikasi sebagai korban.
Gubernur wilayah tersebut, Grégoire Mvongo, mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah Republik Afrika Tengah untuk menangani dampak kecelakaan tersebut.
Di Desa Zamboye, anggota dewan pemuda setempat Bertrand Be Yangué mengatakan kemungkinan menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil, tetapi proses pencarian tetap dilakukan.
“Menemukan mereka hidup-hidup akan menjadi sebuah keajaiban,” kata Yangué.
Ia mengatakan banyak warga muda bekerja di pertambangan untuk mendapatkan penghasilan dan membantu keluarga mereka.
Proses evakuasi dilakukan dengan bantuan alat berat, termasuk traktor. Namun, penggunaan alat berat juga mendapat perhatian karena berisiko membahayakan korban yang kemungkinan masih berada di bawah reruntuhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!