Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Puas Bangun Smelter! Indonesia Harus Kuasai Industri Hilir

📅 Jumat, 14 Agu 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Jangan Puas Bangun Smelter! Indonesia Harus Kuasai Industri Hilir Doc: antara
Ket. Ekonomi Hijau - Hilirisasi Bernilai Tinggi Harus Selaras dengan Transisi Energi Bersih

Rantai nilai mineral terintegrasi menjadi fondasi pengembangan industri berteknologi tinggi, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi daerah, dan menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasok global.

JAKARTA – Ambisi Indonesia menjadi pusat manufaktur teknologi tinggi lewat hilirisasi mineral dinilai masih menghadapi banyak pekerjaan rumah. Jika hanya fokus menambah smelter tanpa menguasai teknologi inti, hilirisasi berisiko berhenti di produk setengah jadi.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menilai pembangunan rantai pasok mineral terintegrasi merupakan langkah ambisius untuk menjadikan Indonesia pusat manufaktur teknologi tinggi global, bukan sekadar pengekspor komoditas.

“Namun, terdapat empat tantangan utama yang harus diatasi, yakni kesenjangan teknologi, termasuk keterbatasan penguasaan High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk pengolahan nikel, teknologi pemurnian silika untuk silikon, serta lambatnya transfer teknologi dari investor asing; standar lingkungan/ ESG,” jelasnya di Jakarta, Kamis (13/8).

Menurutnya, pasar global menuntut proses ekstraksi dan pemurnian rendah karbon serta transparan, sementara ekspansi tambang masih berdampak ekologis signifikan; evolusi teknologi, seperti pergeseran baterai global menuju Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Sodium-ion yang mengurangi ketergantungan pada nikel; serta validasi cadangan, karena sejumlah mineral penting seperti Logam Tanah Jarang dan tembaga masih berstatus sumber daya, belum menjadi cadangan terbukti.

Jika berhasil dibangun, rantai nilai mineral terintegrasi dinilai dapat mendorong pertumbuhan industri maju domestik, meningkatkan ekonomi lokal dan nasional, mempercepat transisi energi, menciptakan resiliensi fiskal, serta memperkuat daya tawar geopolitik Indonesia sebagai hub manufaktur esensial dalam rantai pasok global.

Senada, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma yang menekankan hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekspor produk setengah jadi. “Hilirisasi mineral tidak boleh berhenti pada ekspor produk setengah jadi atau sekadar memindahkan pabrik pemurnian ke dalam negeri,” kata Surya Darma.

Surya menilai pandangan Is Prima Nanda sangat tepat. Menurutnya, tantangan sejati Indonesia saat ini adalah membangun kapabilitas teknologi dan rantai nilai dari hulu ke hilir.

“Termasuk rekayasa material advance yang dibutuhkan untuk teknologi masa depan,” ujarnya.

Namun, Surya juga memberikan catatan kritis. Dia menegaskan hilirisasi bernilai tinggi harus berjalan selaras dengan transisi energi bersih.

“Sangat kontradiktif jika kita membangun industri rekayasa material bernilai tinggi seperti komponen baterai atau kendaraan listrik, tetapi proses pengolahannya masih sangat bergantung pada energi fosil yang kotor,” tegas Surya.

Daya Saing

Menurutnya, tanpa penguasaan teknologi nasional dan pasokan energi terbarukan di kawasan industri mineral, produk hasil hilirisasi Indonesia akan kehilangan daya saing global akibat jejak karbon yang tinggi. “Hilirisasi dan rekayasa material harus menjadi bagian dari ekosistem hijau Indonesia secara utuh,” pungkas Ketua ICRES itu.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Is Prima Nanda menekankan pentingnya kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dalam hilirisasi mineral. Menurut dia, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi ketersediaan sumber daya mineral, melainkan kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...

Hiu paus terdampar di Bantul

1 jam lalu | Wahyu AP

Rona
Hiu paus terdampar di Bantul
Daerah
Edukasi bantuan hidup dasar...

Bakti kesehatan Polri di Polres Jombang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Bakti kesehatan Polri di Po...
Luar Negeri
PBB Terpaksa Kurangi Bantua...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.