Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemkab Pati Optimalkan Penyerapan Garam Petani Menyusul Produksi yang Melimpah

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 13:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemkab Pati Optimalkan Penyerapan Garam Petani Menyusul Produksi yang Melimpah Doc: ANTARA
Ket. Sejumlah petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, melakukan pengolahan lahan untuk produksi garam.

PATI – Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berkomitmen mengoptimalkan penyerapan garam petani menyusul melimpahnya produksi saat memasuki musim panen raya, yang berdampak pada penurunan harga jual komoditas tersebut di tingkat petani.

"Pemkab Pati tentu akan mengoptimalkan keberadaan industri dan gudang penyimpanan garam rakyat untuk membantu menyerap hasil produksi petani," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, di Pati, Minggu (09/8).

Menurut dia, keberadaan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) yang merupakan pabrik pengolahan garam industri di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, bisa dioptimalkan untuk membantu penyerapan garam petani.

Di Kabupaten Pati juga terdapat tiga gudang rakyat ditambah lima gudang yang sudah eksisting.Seluruh fasilitas tersebut dapat dioptimalkan untuk meningkatkan penyerapan garam lokal.

Selain itu, di Kabupaten Patijuga terdapat satu koperasi garam yang memiliki tugas membantu menyerap hasil produksi petani garam.

"Keberadaan koperasi desa juga bisa dikolaborasikan, sehingga bisa membantu tingkat kesejahteraan para petani garam," ujarnya.

Hadi mengungkapkan produktivitas garam pada musim kemarau tahun ini justru mengalami penurunan dibandingkan musim kemarau sebelumnya.

Kondisi tersebut dipengaruhi tanah di areal produksi garam yang masih cenderung basah setelah sebelumnya mengalami musim hujan yang cukup panjang.

Akibatnya, proses produksi garam membutuhkan waktu lebih lama, sehingga produktivitas petani mengalami penurunan.

Ali Muntoha, petani garam asal Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, mengakui musim kemarau saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena tanah di lahan produksi garam cenderung tawar sehingga mengakibatkan proses produksi garam membutuhkan waktu lebih lama.

"Jika sebelumnya dalam waktu tiga hari bisa panen, kini butuh waktu hingga empat hari karena uap panas dari tanah tidak maksimal karena selain tawar juga tanahnya cenderung basah. Sedangkan, hasil panennya juga turun menjadi 1 kuintal dari sebelumnya bisa 1,5 kuintal," ujarnya.

Menurut Ali, kondisi tersebut dapat dirasakan dari suhu panas di lahan produksi. Jika sebelumnya pada sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB suhu panas sudah cukup tinggi, saat ini panas yang dihasilkan tanah pada waktu tersebut belum maksimal.

Selain persoalan produktivitas, petani juga menghadapi rendahnya penyerapan garam. Perusahaan pembuat garam konsumsi disebut belum menerima pasokan bahan baku dari petani sehingga berdampak terhadap harga jual di tingkat petani.

Ali mengatakan harga garam yang sebelumnya mencapai Rp1.100 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp700 per kilogram.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...

Pasar pangan murah menjangkau warga Jakarta

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

2 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

2 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.