Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

30 Tahun Membeku di Gunung Everest, Pendaki 'Green Boots' Akhirnya akan Pulang

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 10:11 WIB | Oleh:

Seorang pejabat ITBP, yang berbicara secara anonim karena tidak berwenang berbicara kepada media, mengatakan kepada BBC News Hindi bahwa pakaian dan perlengkapan pendakian Morup membantu para petugas mengidentifikasi jenazah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak saat itu, mereka merencanakan bagaimana membawa rekan mereka pulang agar mereka dapat memastikan identitasnya tanpa keraguan melalui tes DNA dan memberikan sedikit kelegaan bagi keluarganya.

"Kami tidak pernah melupakannya. Itu hanya masalah waktu," kata pejabat ITBP tersebut.

Seberapa Sulitkah Mengambil Jenazah Itu?

Mengeluarkan jenazah orang-orang yang meninggal di gunung adalah tugas berbahaya dan melelahkan, dan, hingga dekade terakhir, sangat jarang terjadi.

Banyak dari jenazah, seperti Morup, berada di wilayah yang oleh para pendaki disebut zona kematian Everest – di mana suhu dapat turun hingga -40 derajat Celcius dan kadar oksigen hanya sekitar sepertiga dari kadar oksigen di permukaan laut.

"Kondisi cuaca dan salju akan sangat penting," kata Tshiring Jangbu Sherpa, seorang pendaki terkemuka Nepal yang ikut serta dalam misi penyelamatan lainnya.

"Sisi utara memiliki lebih sedikit celah, tetapi lebih berisiko. Jika terjadi sesuatu yang buruk dari sisi Nepal, Anda akan segera dievakuasi dengan helikopter. Tetapi tidak ada sistem seperti itu dari sisi Tiongkok," katanya kepada BBC Hindi.

Sisi Tiongkok dari puncak tersebut – tempat jenazah Green Boots berada – lebih curam dan tidak memiliki struktur pendukung yang sama seperti lereng selatan, yang merupakan faktor rumit lainnya, demikian sumber-sumber Sherpa mengatakan kepada BBC News Nepali.

"Sangat sulit untuk menurunkan jasad itu bahkan di musim semi yang ramai, apalagi di musim gugur [yang cuacanya lebih sulit diprediksi]. Itulah alasan sederhana mengapa jasad itu masih ada di sana selama bertahun-tahun," kata pemandu pendakian gunung Pemba Ongchu Sherpa.

"Dibutuhkan 10 hingga 12 pendaki yang mampu mencapai puncak, hanya untuk memasang tali [penyangga] agar bisa mencapai titik tersebut."

Green Boots juga harus diangkut secara fisik ke ketinggian tertentu agar dapat diambil oleh helikopter, atau mungkin yak, dan diangkut kembali ke bandara – pekerjaan yang juga membutuhkan tenaga kerja yang sangat besar.

Para Sherpa mengatakan jenazah yang diselimuti perlengkapan pendakian yang membeku seringkali lebih berat beberapa kali lipat dari berat rata-rata manusia dan seringkali membeku dalam posisi yang sulit, sehingga membawa mereka turun melalui medan yang menantang menjadi lebih berbahaya. Jenazah juga dapat mulai mencair dan membusuk begitu mencapai ketinggian yang lebih rendah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Advertisement
gaia musik festival
Luar Negeri
Selat Hormuz Masih Ditutup,...

Veda Ega Terpeleset, Start dari Baris Keenam Moto3 Inggris

1.5 jam yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
Veda Ega Terpeleset, Start ...
Daerah
Kadisparbud Gorontalo Utara...
Judi Online Rp2,5 Triliun Mengalir di Jabar, Dedi Mulyadi Dorong LPM Perkuat Ekonomi Desa

Judi Online Rp2,5 Triliun Mengalir di Jabar, Dedi Mulyadi Dorong LPM Perkuat Ekonomi Desa

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.