Kalbe Perkuat Pendampingan Pasien dari Deteksi Dini hingga Perawatan Berkelanjutan
📅 Selasa, 04 Agu 2026, 19:33 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Pengelolaan diabetes di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya jumlah penyandang diabetes, tetapi juga kesinambungan perawatan setelah seseorang mendapatkan diagnosis.
PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menilai pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi dan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, terapi, pemantauan, hingga perubahan gaya hidup dan pengelolaan jangka panjang.
Pandangan tersebut disampaikan Kalbe dalam Media Discussion bertajuk “End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang” di Jakarta, 4 Agustus 2026. Forum tersebut membahas pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung perjalanan penyandang diabetes.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun dengan diabetes pada 2024. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia berdasarkan jumlah orang dewasa dengan diabetes.
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan prevalensi berdasarkan diagnosis dokter yang mencapai 2,2 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam deteksi dan pengenalan status diabetes di masyarakat. Karena itu, pengelolaan diabetes tidak cukup hanya berfokus pada penanganan setelah diagnosis, tetapi juga membutuhkan upaya edukasi dan deteksi dini.
Tantangan Tidak Berhenti Setelah Diagnosis
Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed, mengatakan diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan pengelolaan berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan sejak memahami faktor risiko, menjalani deteksi dini, memulai terapi, hingga mengelola penyakit dalam jangka panjang,” ujar Selvinna.
Menurut dia, pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support dikembangkan untuk menghubungkan berbagai tahapan tersebut sehingga penyandang diabetes memperoleh dukungan yang berkesinambungan.
Selvinna menambahkan, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga kepatuhan pasien dalam menjalankan tata laksana medis sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Kami percaya, tidak ada penyandang diabetes yang seharusnya menjalani perjalanan penyakitnya sendirian. Pada saat yang sama, keberhasilan pengelolaan diabetes juga memerlukan kepatuhan pasien dalam menjalankan tata laksana medis sesuai anjuran tenaga kesehatan,” katanya.
Data SKI 2023 memperlihatkan pentingnya persoalan tersebut. Kementerian Kesehatan mencatat adanya kesenjangan antara jumlah orang dengan kadar gula darah yang memenuhi kriteria diabetes dan mereka yang telah mendapatkan diagnosis dokter. Pada kelompok usia produktif 18-59 tahun, misalnya, prevalensi berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 10 persen, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter hanya 1,6 persen.
Edukasi Jadi Fondasi Pengelolaan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!