Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apakah Kerajaan Sriwijaya Memang Benar-benar Pernah Ada?

📅 Minggu, 27 Sep 2026, 01:05 WIB | Oleh:
Apakah Kerajaan Sriwijaya Memang Benar-benar Pernah Ada? Doc: antara
Ket. sekarang untuk nama kapal induk

JAKARTA – Banyak kerajaan sanga lama yang masih diragukan apakah mereka dulu pernah ada. Apalagi untuk kerajaan yang sama sekali tidak ada peninggalannya. Untuk memperjelas keberadaan dan sejarah kerajaan, salah satunya tentang Sriwijaya, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengajak masyarakat melihat langsung kisah keemasan Kerajaan Sriwijaya di Museum Nasional Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan saat peluncuran program Berbincang Ragam Budaya (Beranda) di Museum Nasional Indonesia yang membedah buku terbaru karya Herald van der Linde berjudul "Srivijaya: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire".

"Teman-teman jangan lupa baca buku ini dan pelajari langsung betapa hebatnya nenek moyang bangsa kita, sekaligus mampir ke Museum Nasional Indonesia untuk melihat sendiri jejak sejarahnya. Inilah semangat yang terus kita hidupkan, mengenal sejarah agar semakin bangga menjadi Indonesia," ujar Indira di Jakarta, Sabtu.

Buku "Srivijaya" menyelami jejak sejarah Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara sejak abad ke-7 Masehi, menguasai rute perdagangan laut, serta menjadi simpul penting dalam jaringan dunia dan pusat pembelajaran agama Buddha.

Sejumlah jejak sejarah penting dari abad ke-7 itu yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia meliputi Prasasti Kedukan Bukit serta Prasasti Telaga Batu yang memuat teks sumpah setia sekaligus kutukan bagi siapa pun yang berkhianat pada raja.

Selain jejak sejarah Sriwijaya, Museum Nasional turut memamerkan mahakarya Nusantara lainnya, seperti Arca Manjusri dari abad ke-10 yang melambangkan kebijaksanaan tertinggi ajaran Buddha Mahayana, serta Arca Prajnaparamita yang melengkapi ruang edukasi publik bagi masyarakat.

Saat ini, pengelolaan seluruh fasilitas dan koleksi di Museum Nasional Indonesia berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesian Heritage Agency (IHA).

Badan Layanan Umum di bawah naungan Kementerian Kebudayaan yang terbentuk sejak 2022 dan diresmikan sejak 1 September 2023 itu kini bertanggung jawab mengelola 17 museum dan galeri serta sejumlah cagar budaya nasional di Indonesia, dengan total koleksi mencapai 250.000 artefak dan benda bersejarah guna mendukung pembangunan masyarakat yang berbudaya.

Salah satunya Museum Nasional Indonesia yang terletak di jantung kota Jakarta. Museum itu menjadi simbol penting dari identitas nasional Indonesia dan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan lewat pelestarian dan pemanfaatan dari 195.044 benda budaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Ekonomi
Upaya Percepatan Pemulihan ...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.