600 Hari Tanpa Kabar: Misteri Pakar Pendeteksi Uji Ledakan Nuklir AS yang Ditahan Tiongkok

Rabu, 15 Jul 2026, 15:50 WIB

WASHINGTON DC – Selama lebih dari 600 hari, Yufang Rong tidak pernah mendengar langsung suara suaminya. Youlin Chen, pakar seismologi Amerika Serikat yang memiliki keahlian mendeteksi uji coba nuklir bawah tanah, ternyata telah ditahan di Tiongkok sejak November 2024 atas tuduhan spionase.

Kasus yang selama hampir dua tahun relatif tertutup itu kini terungkap ke publik. Keluarga Chen mengatakan bahkan permintaan langsung Presiden AS Donald Trump kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping belum berhasil membawa ilmuwan tersebut pulang.

Ket. Foto: Hingga kini, belum dijelaskan alasan Chen berada di Tiongkok ketika ditangkap maupun mengungkap secara terperinci bagaimana penahanannya terjadi. Ketidakjelasan itu semakin menambah misteri yang menyelimuti kasus tersebut. — Sumber: Istimewa

Chen ditahan pada 5 November 2024, menurut Global Reach, organisasi yang bekerja sama dengan keluarganya untuk memperjuangkan pembebasannya.

Penahanan itu segera memunculkan pertanyaan besar. Chen bukan ilmuwan biasa. Bidang keahliannya berada di jantung salah satu isu paling sensitif dalam persaingan strategis antara Washington dan Beijing: bagaimana mendeteksi uji coba nuklir bawah tanah melalui data seismik.

Global Reach menduga keahlian Chen mungkin menjadi salah satu alasan di balik penahanannya. Organisasi tersebut mengaitkan kasus ini dengan tuduhan pemerintah AS bahwa Tiongkok telah melakukan uji coba nuklir bawah tanah yang melanggar larangan pengujian nuklir.

Menurut Global Reach, pengetahuan Chen mengenai sistem pemantauan seismik dapat memberikan kesempatan kepada pemerintah Tiongkok untuk mempelajari metode deteksi yang digunakan AS. Pengetahuan tersebut, menurut para pendukung pembebasannya, berpotensi digunakan untuk mengembangkan langkah-langkah yang membuat aktivitas uji coba nuklir semakin sulit terdeteksi.

Pemerintah Tiongkok membantah telah melakukan uji coba nuklir eksplosif. Beijing balik menuduh Washington mencari alasan untuk kembali melakukan pengujian nuklirnya sendiri.

Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah AS pada Maret secara resmi menetapkan Chen sebagai warga negara yang “ditahan secara tidak sah”. Namun, keluarganya memilih untuk tidak langsung mengumumkan status itu kepada publik dengan harapan diplomasi tertutup dapat membuka jalan bagi pembebasannya.

Harapan sempat muncul pada Mei.

Menurut Global Reach, Trump secara langsung meminta Xi Jinping membebaskan Chen saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Xi dilaporkan setuju untuk mengupayakan penyelesaian kasus tersebut.

Namun, berminggu-minggu kemudian, belum terlihat tanda-tanda bahwa Chen akan segera dibebaskan.

“Kita sekarang berada di titik tengah antara komitmen yang dibuat Presiden Xi pada Mei dan kunjungannya ke Washington DC pada September mendatang, dan pihak Tiongkok belum menunjukkan pergerakan apa pun terkait pembebasan Dr. Chen,” kata Kepala Strategi Global Reach, Eric Lebson.

Sementara diplomasi berjalan tanpa kepastian, keluarga Chen terus menunggu.

Istrinya, Yufang Rong, mengatakan telah lebih dari 600 hari tidak dapat berbicara dengan sang suami. Ia mengaku semakin mengkhawatirkan kondisi kesehatan dan keselamatan Chen.

“Youlin tidak pernah memegang izin keamanan pemerintah AS dan anggapan bahwa dia terlibat dalam spionase adalah salah dan tidak sesuai dengan sifat publik dan kolaboratif dari pekerjaan yang telah dia lakukan,” kata Rong.

Kekhawatiran keluarga semakin besar karena Chen diketahui memiliki sejumlah masalah kesehatan. Menurut profil James Foley Foundation, ia menderita diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.

Sebagian penelitian Chen memang pernah mendapat pendanaan dari militer AS dan Departemen Luar Negeri. Ia juga menulis penelitian mengenai penggunaan data dari berbagai wilayah Asia, termasuk Tiongkok, untuk meningkatkan metode pemantauan uji coba nuklir dan memperkirakan kekuatan ledakan.

Namun, keluarga menegaskan bahwa pekerjaan tersebut bersifat ilmiah, terbuka, dan kolaboratif, bukan kegiatan spionase.

Hingga kini, Global Reach belum menjelaskan alasan Chen berada di Tiongkok ketika ditangkap maupun mengungkap secara terperinci bagaimana penahanannya terjadi. Ketidakjelasan itu semakin menambah misteri yang menyelimuti kasus tersebut.

Departemen Luar Negeri AS kini kembali meningkatkan tekanan terhadap Beijing. Washington menegaskan telah menyampaikan kasus Chen secara langsung kepada para pejabat Tiongkok dan menyerukan pembebasannya segera.

Namun, hingga kasus ini akhirnya terungkap ke publik, Chen masih berada dalam tahanan.

Lebih dari 600 hari telah berlalu tanpa komunikasi langsung dengan keluarganya. Permintaan seorang presiden kepada presiden lainnya pun sejauh ini belum membuahkan hasil.

Kini, menjelang rencana kunjungan Xi Jinping ke Washington pada September, nasib seorang ilmuwan yang memahami cara mendeteksi ledakan nuklir tersembunyi itu berpotensi menjadi persoalan baru dalam hubungan dua kekuatan terbesar dunia.

  • Konflik AS-Tiongkok

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Purbaya: Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Paling Cepat bisa Berlaku September 2026

Ajang Lari Cirebon QRIS Run 2026, Sarana Pemkot Cirebon Gencarkan Penggunaan QRIS

Inovasi Investasi dan Layanan Privilege Antarkan Danamon Raih Dua Penghargaan

Dompet Dhuafa Siapkan 81 Ton Bantuan untuk Penyintas Gempa NTT

Purbaya: Insentif Motor Listrik Sudah Bisa Berlaku Mulai September 2026

7.000 Warga Pulau Palue Butuh Air Bersih, KemePU Kerahkan Tandon dan Survei Geolistrik

Gempa Flores Rusak 4 Pasar Tradisional, Mendag: Pasar Inpres Ruteng Ditutup Sementara

OT Group Konsisten Gelar Upacara Kemerdekaan di Pabrik dan Depo

LG Perkuat Pemasaran WashTower, Gandeng Dealer Spesialis untuk Perluas Edukasi Konsumen

Nelayan Kendari Diimbau Waspadai Gelombang Tinggi dan Angin Kencang pada 19 hingga 22 Agustus 2026

KAI Bangun 8 Tower Rusun MBR di Manggarai, Harga dan Skema Kredit Jadi Sorotan

Triwulan II-2026, Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbun 5,65%

InJourney Destination Bantu Rehab Rumah Nenek Kroniah di Sleman Agar Layak Huni

Driver Ojol Ikut Punya Suara! Pemerintah Libatkan Pengendara dalam Aturan Tarif Baru

Pascagempa di NTT, Kemenhub Pastikan Seluruh Bandara di Flores dan Sekitarnya Tetap Beroperasi Normal

Sumatera Utara Diprediksi BMKG Masih Berpotensi Hujan Sepekan ke Depan

Sejarah Mencatat! Akan Ada Pemain Indonesia Pertama Berlaga di Liga Champions

Dari Rumah Kontrakan Menuju Kemandirian Finansial: Perjalanan Inspiratif Seblak Ngapak Bali

Update Transfer Sementara Liga Jerman: Saibari Ditebus Bayern dari PSV Eindhoven, Segini Harganya!

Minim Tempat Rehabilitasi Narkoba, DPRD DKI Dorong Rumah Sakit Khusus

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.