Jika Konflik Natuna Pecah, Mampukah Rafale TNI - Angkatan Udara Menjatuhkan J-20 Tiongkok?
📅 Senin, 06 Jul 2026, 00:06 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SDi laut, Angkatan Laut Tiongkok telah berkembang menjadi salah satu yang terbesar berdasarkan jumlah kapal. Armada ini mencakup kapal induk, kapal perusak modern, fregat, kapal selam bertenaga nuklir, hingga kapal amfibi berukuran besar.
Kemampuan rudal juga berkembang pesat, termasuk rudal balistik antikapal seperti DF-21D dan DF-26, yang dirancang untuk mengancam kapal perang pada jarak sangat jauh. Di bidang luar angkasa, siber, dan peperangan elektronik, Beijing juga meningkatkan investasinya secara signifikan.
Modernisasi ini merupakan bagian dari target pemerintah Tiongkok untuk membangun angkatan bersenjata "kelas dunia" pada pertengahan abad. Para analis menilai langkah tersebut bertujuan memperkuat kemampuan mempertahankan kepentingan nasional Tiongkok, memperluas daya tangkal, dan meningkatkan pengaruh strategisnya di kawasan maupun global.
Persaingan Dua Kekuatan Besar
Sebaiknya Anda baca juga:
Kebangkitan militer Tiongkok menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Amerika Serikat memperkuat aliansinya di Indo-Pasifik melalui kerja sama dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, Filipina, serta kemitraan seperti AUKUS.
Persaingan kedua negara tidak hanya terjadi di bidang militer, tetapi juga dalam teknologi semikonduktor, kecerdasan buatan, ruang angkasa, perdagangan, hingga pengaruh diplomatik. Banyak pengamat menyebut hubungan Washington–Beijing sebagai kompetisi strategis utama abad ke-21.
Meski demikian, baik Tiongkok maupun Amerika Serikat sama-sama menyatakan ingin mengelola persaingan tersebut agar tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa Artinya bagi Indonesia?
Masuknya Rafale F4 akan menjadi lompatan besar bagi TNI AU. Namun, menghadapi lingkungan strategis yang semakin kompleks memerlukan lebih dari sekadar pesawat tempur.
Keunggulan udara modern ditentukan oleh integrasi radar nasional, sistem komando dan kendali, pesawat peringatan dini, pertahanan udara berlapis, kemampuan peperangan elektronik, serta kesiapan personel.
Di tengah meningkatnya kemampuan militer negara-negara besar di Indo-Pasifik, tantangan Indonesia adalah menjaga daya tangkal (deterrence) dan melindungi kedaulatan wilayahnya, sekaligus tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Modernisasi alutsista pada akhirnya bukan ditujukan untuk mencari lawan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap pihak menghormati kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia sesuai hukum internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!