• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • AI Ubah Dunia Kerja, Pendi...

AI Ubah Dunia Kerja, Pendidikan Berbasis Keterampilan Dinilai Jadi Kunci Masa Depan

Minggu, 05 Jul 2026, 22:32 WIB

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat diperkirakan akan mengubah lanskap dunia kerja dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut mendorong perlunya sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun keterampilan masa depan (future skills) dan memberikan paparan global sejak dini.

Laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk Future of Jobs Report 2025 memperkirakan teknologi, termasuk AI, akan mentransformasi sekitar 86 persen bisnis di dunia. Perubahan tersebut diproyeksikan menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru, namun pada saat yang sama menghilangkan sekitar 92 juta pekerjaan yang ada. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan oleh dunia kerja.

Ket. Foto: Arsya, murid kelas tiga Alta Global School yang berhasil menyeimbangkan kemampuan leadership dan akademisnya. Perkembangan AI diperkirakan mengubah 86 persen bisnis di dunia. Pendidikan berbasis future skills, berpikir kritis, kreativitas, dan paparan global dinilai penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja masa depan. — Sumber: Alta Global School

Di Indonesia, tantangan dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan tersebut masih cukup besar. Berdasarkan hasil PISA Creative Thinking 2022, hanya sekitar lima persen siswa Indonesia yang mencapai level tertinggi (level 5 dan 6) dalam kemampuan berpikir kreatif. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 27 persen. Penilaian tersebut mengukur kemampuan siswa menghasilkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan ide dalam berbagai situasi pemecahan masalah.

Melihat tantangan tersebut, Alta Global School (AGS), sekolah internasional yang berada di bawah naungan Schoters, menerapkan pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan keterampilan masa depan sekaligus mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Founder AGS sekaligus CEO Schoters, Radyum Ikono, mengatakan bahwa kualitas pendidikan internasional menjadi salah satu alasan utama orang tua memilih jalur pendidikan global bagi anak-anak mereka.

"Motivasi utama orang tua yang ingin anaknya kuliah ke luar negeri adalah kualitas dan reputasi pendidikannya. Begitu juga dengan peluang karier global yang lebih besar, baik di perusahaan kelas dunia maupun membangun startup sendiri. Namun, yang tidak kalah penting adalah global exposure serta pengalaman yang membentuk kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir yang luas agar menjadi global citizen yang kompetitif," ujar Radyum.

Menurut dia, penguatan kompetensi tersebut dilakukan secara bertahap sejak siswa berada di jenjang pendidikan dasar. Selain membangun fondasi akademik, sekolah juga mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, hingga mengeksplorasi minat melalui proyek, kompetisi, dan berbagai program pembelajaran berstandar internasional.

Seiring meningkatnya jenjang pendidikan, siswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti sertifikasi internasional serta pendampingan dalam merancang studi lanjut yang sesuai dengan minat dan cita-cita masing-masing.

Radyum mengungkapkan, pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Memasuki tahun kelima penyelenggaraan pendidikan, seluruh lulusan AGS melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar negeri, dengan sekitar 92 persen di antaranya memperoleh beasiswa.

"Kurikulum yang kami terapkan mendorong siswa untuk mengembangkan prestasi sesuai potensinya, dengan mengikuti berbagai kompetisi yang sesuai dengan talenta dan minat mereka. Prestasi menjadi salah satu indikator bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan menjadi solusi nyata melalui inisiatif dan kemampuan memecahkan masalah," katanya.

Penerapan pembelajaran tersebut juga tercermin dari sejumlah prestasi siswa. Salah satunya adalah Shasa, siswi kelas delapan AGS, yang terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam Harvard Future Doctors Program, sebuah program internasional bagi pelajar yang memiliki ketertarikan pada bidang kedokteran. Dalam program tersebut, ia mempelajari konsep-konsep biokimia serta mengikuti berbagai diskusi mengenai dasar-dasar ilmu kedokteran.

Sementara itu, Arsya, siswa kelas tiga AGS, berhasil menyeimbangkan aktivitas organisasi dengan prestasi akademiknya. Selain aktif dalam kegiatan kepemimpinan di sekolah, ia meraih medali emas dan perak pada berbagai kompetisi nasional, antara lain Indonesian Science Competition (ISC) 2025, Pekan Sains dan Olimpiade Nasional 2026, serta Discovered Math, English, and Science Competition.

Menurut AGS, berbagai capaian tersebut merupakan hasil dari pendekatan pendidikan yang mengembangkan kemampuan siswa secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun nonakademik. Melalui pembelajaran yang mendorong kemandirian, pengalaman internasional, dan pengembangan keterampilan abad ke-21, sekolah berharap para lulusannya mampu bersaing di perguruan tinggi maupun dunia profesional dalam skala global di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.