IKK Turun: Kepercayaan Konsumen Luntur, Mesin Konsumsi Terancam Melambat

Rabu, 10 Jun 2026, 18:05 WIB

JAKARTA – Melemahnya keyakinan konsumen pada Mei lalu menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi dan prospek pendapatan ke depan.

Penurunan optimisme ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta persepsi terhadap peluang kerja dan daya beli.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pengunjung memadati Plaza Asia, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. — Sumber: ANTARA/ Adeng Bustomi.

Jika tren ini berlanjut, konsumsi rumah tangga berpotensi melambat sehingga menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi, mengingat konsumsi masih menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional.

Bank Indonesia (BI) menyebut keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi diindikasikan tetap kuat, sebagaimana tercermin dari hasil Survei Konsumen dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 120,9.

Meski tetap kuat, IKK pada Mei 2026 menurun dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 123,0.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/6), menyampaikan tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Mei 2026 didukung oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya.

Lebih rinci, IEK Mei 2026 tercatat sebesar 129,7, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 129,6.

Meningkatnya IEK bersumber dari optimisme ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dan ekspektasi kegiatan usaha yang masing-masing tercatat sebesar 128,1 dan 124,5, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 127,7 dan 124,1.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tetap berada pada level optimis sebesar 112,2, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 116,5.

Tetap kuatnya IKE ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) yang tercatat masing-masing sebesar 123,2, 105,0, dan 108,3, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 128,1, 108,8, dan 112,6.

Dalam survei yang sama, BI juga mencatat bahwa rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) pada Mei 2026 tercatat sebesar 72,3 persen, relatif stabil dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 72,1 persen.

Proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,2 persen, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 9,7 persen.

Sementara proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 17,5 persen, lebih rendah dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 18,2 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.