Goa Bokimoruru, Istana Batu yang Dipahat Air Selama Jutaan Tahun
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 07:08 WIB | Oleh: Haryo BronoKarena debit airnya disuplai oleh cadangan akuifer karst yang sangat luas di bawah permukaan, aliran air Bokimoruru cenderung stabil sepanjang tahun dan menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar.
Laboratorium Iklim
Bagi dunia sains, daya tarik utama Bokimoruru terletak pada ornamen goa (speleothem) yang terus bertumbuh. Stalaktit yang menggantung dari langit-langit dan stalagmit yang tumbuh dari lantai goa terbentuk melalui proses pengendapan kalsium karbonat yang dibawa oleh tetesan air.
Setiap tetesan air hanya meninggalkan lapisan mineral yang sangat tipis, sering kali kurang dari satu milimeter per tahun. Artinya, sebatang stalaktit sepanjang satu meter membutuhkan waktu lebih dari 100.000 tahun untuk terbentuk. Sebagian besar ornamen di Bokimoruru diperkirakan telah tumbuh sejak zaman ketika manusia modern belum menghuni Nusantara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai hal itu menjadikan Bokimoruru sebagai laboratorium alam yang sangat berharga bagi ahli geologi, hidrologi, biologi, dan paleoklimatologi. Lapisan mineral pada stalaktit bekerja layaknya pita rekaman yang menyimpan data perubahan iklim masa lampau. Kandungan isotop oksigen dan karbon di dalamnya memungkinkan para ilmuwan merekonstruksi data curah hujan, suhu, hingga dinamika iklim ratusan ribu tahun lalu.
Ekspedisi speleologi yang pernah dilakukan oleh peneliti Indonesia bersama tim ahli dari Prancis berhasil memetakan lebih dari 8 kilometer lorong goa ini. Meski demikian, para ahli meyakini masih banyak bagian goa yang belum tereksplorasi.
Dengan panjang tersebut, Bokimoruru tercatat sebagai salah satu sistem goa terpanjang di wilayah Indonesia bagian timur. Selain nilai geologinya, goa ini juga menjadi habitat penting bagi kelelawar, udang goa, serta serangga troglobit (biota khusus goa yang hidup tanpa cahaya).
Ekosistem yang Rentan
Kendati tampak megah dan kokoh, ekosistem Karst Sagea dan Goa Bokimoruru menyimpan kerentanan yang tinggi. Karst bekerja seperti spons raksasa; ribuan rekahan pada batu kapur membuat air permukaan langsung masuk ke dalam tanah tanpa melalui proses penyaringan alami yang panjang.
Dampaknya, setiap aktivitas antropogenik (kegiatan manusia) di permukaan baik berupa pembukaan hutan, sedimentasi, maupun pencemaran akan langsung berdampak pada kualitas air sungai bawah tanah di dalam goa.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah peneliti dan pegiat lingkungan mulai menyoroti meningkatnya intensitas kekeruhan pada Sungai Sagea. Fenomena ini diduga kuat berkaitan erat dengan aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan tangkapan air karst. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!