Goa Bokimoruru, Istana Batu yang Dipahat Air Selama Jutaan Tahun
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 07:08 WIB | Oleh: Haryo BronoDESA Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memiliki sebuah pintu menuju dunia yang nyaris tak tersentuh waktu. Dari kejauhan, mulut Goa Bokimoruru tampak sederhana; hanya berupa celah besar di antara tebing batu kapur yang diselimuti vegetasi hutan tropis yang lebat. Namun, begitu melangkah ke dalam, lanskapnya seketika berubah drastis.
Lorong-lorong batu raksasa membentang sejauh mata memandang. Langit-langitnya menjulang hingga puluhan meter, dihiasi ribuan stalaktit yang menggantung seperti kristal alami. Sementara itu, lantainya dipenuhi stalagmit, pilar-pilar batu, dan aliran sungai bawah tanah yang airnya begitu jernih hingga dasar bebatuannya terlihat jelas.
Seluruh kemegahan ini bukanlah hasil pahatan manusia. Goa Bokimoruru merupakan mahakarya alam yang terbentuk melalui proses geologi rumit selama jutaan tahun.
Saat Halmahera di Dasar Laut
Secara geografis, Pulau Halmahera merupakan salah satu wilayah dengan sejarah tektonik paling rumit di dunia. Pulau ini berdiri di atas zona pertemuan empat lempeng tektonik besar dunia: Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina. Interaksi dinamis keempat lempeng ini selama puluhan juta tahun menghasilkan rangkaian pegunungan, gunung api, serta hamparan batuan kapur (karst).
Sebaiknya Anda baca juga:
Jutaan tahun silam, wilayah Halmahera Tengah merupakan lautan tropis yang hangat dan dangkal. Laut tersebut menjadi rumah bagi terumbu karang, cangkang moluska, ganggang berkapur, hingga foraminifera organisme laut penghasil kalsium karbonat (CaCO3).
Ketika organisme-organisme tersebut mati, rangka dan cangkangnya mengendap di dasar laut. Selama jutaan tahun, lapisan endapan karbonat terus menumpuk hingga mencapai ketebalan ratusan meter. Tekanan berat dari lapisan sedimen di atasnya secara perlahan memadatkan endapan tersebut menjadi batu gamping atau batu kapur (limestone).
Sekitar puluhan juta tahun kemudian, aktivitas tektonik mulai mengubah wajah kawasan ini. Tumbukan lempeng bumi mengangkat dasar laut ke permukaan, hingga lapisan batu kapur tersebut mencuat menjadi barisan pegunungan.
Proses pengangkatan tektonik ini bahkan masih aktif berlangsung hingga sekarang, yang ditandai dengan tingginya aktivitas gempa di wilayah Halmahera. Begitu batu kapur ini muncul ke permukaan, alam memulai tahap berikutnya: memahat goa.
Air Hujan Sebagai ‘Arsitek’
Berbeda dengan batu granit atau batuan beku yang keras, batu kapur memiliki sifat unik yaitu mudah larut oleh air yang mengandung asam. Ketika air hujan turun, air tersebut menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dan tanah, lalu berubah menjadi larutan asam karbonat (H2CO3) lemah. Meskipun tidak berbahaya bagi manusia, larutan ini mampu melarutkan batu kapur secara perlahan.
Setetes demi setetes, retakan kecil pada batu berkembang menjadi rekahan yang lebih besar. Rekahan tersebut berubah menjadi lorong sempit, dan dalam rentang ratusan ribu hingga jutaan tahun, lorong-lorong itu melebar menjadi sistem goa raksasa. Proses inilah yang dikenal secara ilmiah sebagai karstifikasi.
Salah satu keunikan terbesar Bokimoruru adalah keberadaan sungai bawah tanah yang terus mengalir sepanjang tahun. Di kawasan karst, air hujan jarang membentuk sungai di permukaan karena langsung meresap melalui ribuan rekahan batu kapur. Air kemudian berkumpul menjadi aliran bawah tanah yang perlahan mengikis lorong goa.
Selama jutaan tahun, sungai bawah tanah di Bokimoruru terus mengikis batu kapur hingga membentuk ruang-ruang besar menyerupai aula alami yang mampu menampung bangunan bertingkat. Air yang mengalir di dalam goa ini akhirnya muncul kembali ke permukaan sebagai mata air besar yang menjadi hulu Sungai Sagea.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!