Legong Keraton Lasem Era 1930-an Kembali Hidup di Panggung PKB XLVIII Denpasar.
📅 Minggu, 28 Jun 2026, 11:58 WIB | Oleh: Yebdi TrismarBerdasarkan hasil penelitian, kehadiran Rangda bukan sekadar variasi dramatik, melainkan memiliki makna teologis dan psikologis yang memperkuat alur cerita.
Kurator PKB 2026 lainnya yaitu maestro tari Bali Prof. Dr. I Wayan Dibia juga mengaku terkesan dengan pertunjukan tersebut.
Ia menilai kekhasan garapan, terutama iringan tabuh bernuansa janger, menjadi identitas yang membedakan kelompok ini dari pementasan lainnya.
"Yang saya sukai adalah tabuh bernuansa janger yang menjadi ciri khas sekaa ini, variasi seperti ini membuat PKB semakin kaya dan tidak monoton," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kurator menilai garapan ini menjadi ikhtiar menghidupkan kembali warisan budaya Bali sekaligus menegaskan bahwa seni tradisi mampu terus berdenyut dan diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan roh serta nilai luhur yang dikandungnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!