Penjaga Pantai Taiwan Selamatkan ABK Indonesia yang Terombang-Ambing di Tanjung Eluanbi

Rabu, 24 Jun 2026, 20:20 WIB

TAIPEI- Pusat Komando Operasi Administrasi Penjaga Pantai Taiwan (Coast Guard Administration) berhasil menyelamatkan seorang Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia yang mengalami kondisi daruratpada tanggal 7 Mei 2026 lalu.

ABK tersebut diselamatkan dalam kondisi terombang-ambing sekitar 138 mil laut di tenggara Tanjung Eluanbi setelah ditemukan terluka akibat serangan ikan pari. Akibat tusukan ikan pari tersebut, korban mengalami pembengkakan dan pendarahan pada bagian betis dan beresiko tinggi untuk terkena infeksi.

Ket. Foto: Pusat Komando Operasi Administrasi Penjaga Pantai Taiwan (Coast Guard Administration) mengerahkan tim untuk mengevakuasi seorang ABK berkewarganegaraan Indonesia yang terombang-ambing sekitar 138 mil laut di tenggara Tanjung Eluanbi pada awal Mei lalu karena diserang ikan pari. — Sumber: Kinmen Matsu Penghu Branch Coast Guard Administrat

ABK tersebut berhasil diselamatkan setelah Pusat Komando Operasi Administrasi Penjaga Pantai Taiwan menerima laporan dari nakhoda kapal penangkap ikan berbendera Taiwan “Jin Yuan Chun No. 6”.

Menindaklanjuti laporan tersebut, otoritas Taiwan mengerahkan upaya penyelamatan dengan mengaktifkan mekanisme tanggap darurat dan mengerahkan operasi terpadu, baik melalui laut maupun udara. Penjaga Pantai Taiwan kemudian menerjunkan sebuah kapal dan helikopter untuk menyelamatkan korban. 

Kapal “Chenggong” terlebih dahulu diberangkatkan untuk melakukan penjemputan terhadap awak kapal yang terluka. Selanjutnya, Tim Evakuasi Udara Skuadron Ketiga Kaohsiung dari National Airborne Service Corps diberangkatkan menggunakan helikopter Black Hawk, yang lepas landas dari Bandara Xiaogang pada tanggal 8 Mei menuju lokasi yang telah ditentukan. 

Cukup Menantang

Proses evakuasi dilakukan dengan metode hoist atau pengangkatan menggunakan tali. Meski menghadapi kondisi laut yang cukup menantang, tim penyelamat berhasil melakukan evakuasi dan mengamankan korban. Korban kemudian dibawa menggunakan helikopter dan tibadi Bandara Xiaogang pada pukul 17.58 sore hari waktu setempat.

Berdasarkan keterangan otoritas setempat, korban berada dalam kondisi sadar dengan tanda-tanda vital stabil saat dievakuasi. Setelah tiba di darat, korban langsung diserahkan kepada tim medis untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.

Pihak Penjaga Pantai Taiwan menegaskan bahwa operasi penyelamatan di laut dilakukan tanpa membedakan kewarganegaraan korban. Otoritas Taiwan juga menegaskan komitmen mereka untuk memberikan bantuan darurat bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan di perairan Taiwan tanpa memandang latar belakang pihak yang membutuhkan, termasuk awak kapal berkewarganegaraan Indonesia yang bekerja di kawasan tersebut. 

Menanggapi kejadian tersebut, Menteri Dewan Urusan Kelautan (Ocean Affairs Council) Taiwan, Kuan Bi-Ling, menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan di laut merupakan tindakan kemanusiaan sehingga kerja sama internasional sangat diperlukan. “Coast Guard Taiwan dan negara-negara tetangga kerap melaksanakan operasi penyelamatan bersama di wilayah perairan yang saling berbatasan,” kata Kuan Bi-Ling.

Dalam upaya mengantisipasi kejadian serupa, otoritas Penjaga Pantai Taiwan aktif melaksanakan pelatihan evakuasi medis di laut secara rutin guna memastikan setiap misi dapat dilaksanakan dengan cepat dan aman. 

Sebagaimana Bi-Ling tegaskan, kerja sama lintas negara dan pembentukan jalur komunikasi, dan penyelenggaraan latihan bersama, tujuannya adalah “bersama-sama menjaga keselamatan pelayaran di laut dan melindungi keselamatan jiwa seluruh orang yang bekerja maupun beraktivitas di laut, tanpa memandang kewarganegaraannya.”

  • taiwan
  • Tanggap Darurat
  • Pusat Komando Operasi Administrasi Penjaga Pantai Taiwan
  • Coast Guard Administration
  • Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia
  • Tanjung Eluanbi

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.