Lewat Geliat Sepak Bola, Antara Pertaruhan Reputasi Kota dan Investasi Ekonomi

Kamis, 23 Jul 2026, 18:03 WIB

SURABAYA - Sepak bola selalu memiliki cara unik mempertemukan sebuah kota dengan warganya.

Riuh tribun, warna kebanggaan yang memenuhi stadion, hingga denyut ekonomi yang menghidupkan warung kecil di sekitar arena pertandingan menjadi gambaran bahwa sepak bola tidak pernah berhenti pada skor akhir.

Ket. Foto: Tampak Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) di Surabaya, Jawa Timur. Stadion berkapasitas lebih dari 45 ribu penonton itu disiapkan sebagai lokasi pertandingan Grup B Piala Presiden 2026, sementara Pemerintah Kota Surabaya juga menyiapkan Stadion Gelora 10 Nopember dan Lapangan Thor sebagai fasilitas latihan guna mendukung kelancaran turnamen. — Sumber: ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya

Di setiap pertandingan, ada kota yang sedang memperlihatkan kapasitasnya sebagai tuan rumah, sekaligus memperkenalkan wajahnya kepada publik yang lebih luas.

Kota Surabaya, Jawa Timur kembali memperoleh kesempatan itu. Kota Pahlawan dipercaya menjadi salah satu tuan rumah Piala Presiden 2026 bersama Bandung. Stadion Gelora Bung Tomo disiapkan sebagai lokasi pertandingan Grup B, sementara Stadion Gelora 10 Nopember dan Lapangan Thor menjadi fasilitas latihan bagi klub peserta.

Kepercayaan tersebut bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari rekam jejak Surabaya dalam menyelenggarakan berbagai ajang sepak bola nasional maupun internasional, termasuk Piala Dunia U-17 FIFA 2023.

Pemerintah Kota Surabaya menyatakan seluruh sarana dan prasarana telah dipersiapkan melalui koordinasi dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk memastikan turnamen berlangsung lancar.

Turnamen yang berlangsung pada 25 Juli hingga 6 Agustus 2026 itu mempertemukan delapan klub dari empat negara Asia Tenggara.

Kehadiran klub Indonesia bersama wakil Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam memperlihatkan bahwa Piala Presiden telah berkembang menjadi lebih dari sekadar kompetisi pramusim. Turnamen ini menjadi panggung untuk mengukur kualitas klub nasional sekaligus memperkuat jejaring sepak bola kawasan.

Pertaruhan Reputasi Kota

Menjadi tuan rumah turnamen sepak bola bukan hanya soal menyediakan stadion yang layak. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan sebuah kota menghadirkan pengalaman yang aman, nyaman, sekaligus berkesan bagi atlet, ofisial, suporter, media, hingga wisatawan.

Dalam konteks itu, Surabaya memiliki modal yang tidak kecil. Infrastruktur olahraga yang terus diperbaiki selama beberapa tahun terakhir berpadu dengan jaringan jalan, transportasi, layanan kesehatan, hotel, hingga sistem keamanan kota yang semakin matang.

Pengalaman menggelar event internasional membuat berbagai prosedur penyelenggaraan telah teruji sehingga koordinasi antarlembaga dapat berlangsung lebih efektif.

Namun, keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya diukur dari kelancaran pertandingan. Nilai tambah terbesar justru muncul di luar lapangan.

Setiap pertandingan menghadirkan ribuan orang yang membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, suvenir, hingga berbagai layanan pendukung. Perputaran ekonomi tersebut membuka ruang bagi hotel, restoran, pedagang kaki lima, pelaku ekonomi kreatif, transportasi daring, hingga usaha mikro di sekitar stadion.

Karena itu, penyelenggara memang mendorong agar UMKM dilibatkan secara maksimal selama pelaksanaan Piala Presiden. Pengelolaan sampah berbasis daur ulang juga mulai menjadi perhatian agar penyelenggaraan olahraga tidak meninggalkan persoalan lingkungan.

Di banyak negara, konsep sport tourism telah menjadi strategi pembangunan ekonomi daerah. Kota-kota penyelenggara berbagai ajang olahraga memperoleh manfaat bukan hanya selama pertandingan berlangsung, tetapi juga dari meningkatnya kunjungan wisata, investasi, dan citra kota.

Surabaya memiliki peluang menuju arah tersebut. Kota ini tidak hanya menawarkan pertandingan sepak bola, tetapi juga memiliki wisata sejarah, kuliner, museum, kawasan heritage, hingga destinasi keluarga yang dapat dinikmati para pendatang. Turnamen olahraga akhirnya menjadi pintu masuk bagi promosi kota secara lebih luas.

20260723180056_dok.Stadion-Gelora-Bung-Tomo-9.jpg

Petugas melakukan perawatan lapangan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Jawa Timur. Pemkot Surabaya memastikan kesiapan stadion beserta fasilitas pendukung sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan Piala Presiden 2026 yang diikuti delapan klub dari empat negara Asia Tenggara. Antara/HO-Diskominfo Surabaya.

Membangun ekosistem

Keputusan menghadirkan klub dari empat negara Asia Tenggara juga menunjukkan arah baru pembangunan sepak bola nasional. Kompetisi tidak lagi hanya menjadi ruang persaingan antarklub dalam negeri, melainkan kesempatan melakukan pembandingan kualitas dengan negara tetangga.

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan PSSI yang ingin meningkatkan kualitas klub Indonesia melalui kompetisi yang semakin kompetitif. Piala Presiden diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembinaan yang saling terhubung dengan kompetisi usia muda dan pembinaan akar rumput.

Bagi Persebaya Surabaya, bermain di hadapan pendukung sendiri tentu menjadi keuntungan tersendiri. Namun, yang jauh lebih penting adalah hadirnya kesempatan bagi pemain muda untuk merasakan atmosfer pertandingan berlevel tinggi sebelum kompetisi resmi dimulai.

Di sisi lain, masyarakat juga memperoleh tontonan berkualitas yang dapat meningkatkan minat terhadap sepak bola nasional. Ketika stadion dipenuhi penonton yang tertib dan pertandingan berlangsung profesional, kepercayaan publik terhadap industri sepak bola ikut tumbuh.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Transportasi menuju stadion harus mampu mengantisipasi lonjakan kendaraan. Manajemen parkir perlu berjalan tertib. Sistem keamanan harus mengedepankan pelayanan tanpa mengurangi ketegasan.

Pengelolaan sampah memerlukan keterlibatan penonton. Edukasi mengenai sportivitas juga harus terus dikampanyekan agar rivalitas berhenti di lapangan, bukan di luar stadion.

Semua aspek tersebut menentukan apakah sebuah turnamen meninggalkan kenangan positif atau justru persoalan baru.

20260723180153_dok.Stadion-Gelora-Bung-Tomo-6.jpg

Tampak ruang ganti pemain di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Jawa Timur. Berbagai sarana dan prasarana di stadion terus dipersiapkan Pemerintah Kota Surabaya guna mendukung kelancaran penyelenggaraan Piala Presiden 2026 yang diikuti delapan klub dari empat negara Asia Tenggara. Antara/HO-Diskominfo Surabaya


Warisan kota

Piala Presiden hanya berlangsung beberapa pekan. Namun, dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama apabila dikelola sebagai bagian dari pembangunan kota.

Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem olahraga Surabaya. Stadion yang terawat, fasilitas latihan yang terus ditingkatkan, pembinaan usia muda yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara pemerintah daerah, PSSI, klub, dunia usaha, dan masyarakat akan menghasilkan manfaat yang jauh melampaui satu musim kompetisi.

Yang juga penting adalah memastikan masyarakat menjadi penerima manfaat utama. Pelibatan UMKM, promosi destinasi wisata, peningkatan pelayanan publik, hingga penguatan citra Surabaya sebagai kota penyelenggara event internasional merupakan investasi jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar keberhasilan menjadi tuan rumah.

Sebuah kota dikenang bukan hanya karena memiliki stadion megah, melainkan karena mampu menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi setiap orang yang datang. Ketika pertandingan usai, sorak penonton mereda, dan lampu stadion dipadamkan, yang tersisa adalah reputasi sebuah kota.

Surabaya memiliki kesempatan memperlihatkan bahwa sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen pembangunan yang menggerakkan ekonomi, memperkuat persatuan, membangun karakter, sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada kawasan.

Jika momentum ini dimanfaatkan secara konsisten, maka Piala Presiden 2026 tidak hanya menjadi catatan dalam kalender kompetisi, tetapi juga menjadi pijakan penting menuju ekosistem olahraga yang semakin maju dan berdaya saing. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.