• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Aktivitas Trading Aset Ter...

Aktivitas Trading Aset Tertokenisasi Saham AS di Indonesia Tumbuh pada Kuartal II 2026

Kamis, 23 Jul 2026, 18:47 WIB

JAKARTA – Aktivitas perdagangan aset tertokenisasi berbasis saham Amerika Serikat (AS) menunjukkan pertumbuhan sepanjang kuartal II 2026. Data dari PT Pintu Kemana Saja mencatat peningkatan jumlah trader aktif, transaksi, hingga volume trading pada kategori US Stocks Tokenized Assets dibandingkan kuartal sebelumnya.

Platform investasi aset kripto tersebut mencatat jumlah trader aktif pada kategori aset tertokenisasi berbasis saham AS tumbuh 18 persen secara kuartal ke kuartal (quarter-over-quarter/QoQ). Jumlah transaksi meningkat 17 persen, sedangkan volume trading naik 11 persen.

Ket. Foto: Ilustrasi aktivitas token berbasis saham AS. Aktivitas trading aset tertokenisasi berbasis saham AS tumbuh pada kuartal II 2026, dengan trader aktif naik 18 persen dan volume trading meningkat 11 persen. — Sumber: Pintu

Pertumbuhan tersebut berlangsung seiring meningkatnya minat terhadap instrumen investasi yang mengacu pada indeks dan exchange-traded fund (ETF). Tren ini dinilai mencerminkan perubahan perilaku investor yang mulai mempertimbangkan diversifikasi portofolio melalui aset digital.

Pintu telah menyediakan 45 aset tertokenisasi berbasis saham dan ETF Amerika Serikat sejak kategori tersebut diperkenalkan di aplikasinya pada September 2025.

Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengatakan pertumbuhan pada sejumlah indikator utama menunjukkan aset berbasis real world asset (RWA), khususnya saham AS yang ditokenisasi, mulai menjadi salah satu pilihan bagi investor dan trader aset kripto di Indonesia.

"Pertumbuhan yang merata di seluruh indikator utama pada kuartal II-2026 menunjukkan bahwa token berbasis aset dunia nyata (real world asset atau RWA), khususnya saham AS tertokenisasi, semakin menjadi pilihan sebagai bagian dari strategi diversifikasi investor dan trader crypto di Indonesia. Kenaikan jumlah trader aktif hingga 18 persen secara quarter-over-quarter mengindikasikan basis investor yang semakin meluas," ujar Andy dalam keteranganya pada hari Kamis (23/7).

Minat terhadap ETF Indeks Meningkat

Salah satu perkembangan yang menonjol pada kuartal II 2026 adalah meningkatnya aktivitas perdagangan token ETF yang mengacu pada indeks utama pasar saham Amerika Serikat.

Token ETF Nasdaq-100 mencatat pertumbuhan volume trading sebesar 115 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jumlah trader aktif pada instrumen tersebut bahkan meningkat 196 persen.

Nasdaq-100 merupakan indeks yang melacak sekitar 100 perusahaan terbuka non-keuangan di Amerika Serikat. Sementara itu, token ETF yang mengacu pada indeks S&P 500 mencatat kenaikan volume trading sebesar 74 persen.

Jumlah trader aktif pada instrumen tersebut meningkat 160 persen secara kuartalan.S&P 500 merupakan indeks yang mencakup 500 perusahaan terbuka dengan kapitalisasi besar di pasar saham Amerika Serikat.

Pertumbuhan jumlah trader aktif pada kedua instrumen tersebut menunjukkan meningkatnya ketertarikan investor terhadap eksposur pasar saham yang lebih luas melalui aset berbasis indeks. Strategi tersebut memungkinkan investor memperoleh diversifikasi yang lebih luas dibandingkan berinvestasi pada satu saham secara individual.

Andy menilai peningkatan minat terhadap ETF indeks dibandingkan saham tunggal dapat menjadi indikasi positif terhadap perkembangan perilaku investor dalam memanfaatkan aset tertokenisasi.

"Tersedianya beragam pilihan aset tertokenisasi berbasis saham dan ETF Amerika Serikat pada aplikasi Pintu mendorong ketertarikan yang lebih besar dari para trader terhadap kelas aset ini, di mana para investor dan trader dapat berinvestasi atau melakukan aktivitas trading pada aset ini mulai dari modal yang terjangkau," tutur Andy.

Menurut dia, tingginya minat terhadap ETF indeks menunjukkan investor mulai mencari eksposur yang lebih terdiversifikasi terhadap pasar saham Amerika Serikat.

"Investor tidak lagi sekadar mengejar satu nama populer, melainkan mulai memanfaatkan tokenisasi untuk mendapatkan eksposur yang lebih terdiversifikasi terhadap pasar saham Amerika Serikat secara keseluruhan," ujarnya.

Ke depan, Pintu menyatakan akan terus memperluas pilihan instrumen tertokenisasi berbasis indeks untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada investor Indonesia yang ingin mengakses strategi diversifikasi aset global.

Token Saham Teknologi Juga Menguat

Selain ETF, aset tertokenisasi yang mengacu pada saham perusahaan teknologi Amerika Serikat juga mencatat pertumbuhan aktivitas perdagangan.

Token berbasis saham Apple (AAPLX) menjadi salah satu aset dengan pertumbuhan volume trading tertinggi pada kuartal II 2026. Volume perdagangannya tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan volume trading juga tercatat pada sejumlah aset lainnya. Token berbasis saham Circle (CRCLX) mengalami kenaikan volume 60 persen, sedangkan token Microsoft (MSFTX) tumbuh 39 persen.

Pada periode yang sama, token berbasis komoditas perak atau tokenized silver juga mencatat pertumbuhan volume trading sebesar 39 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan minat terhadap aset berbasis RWA tidak hanya terkonsentrasi pada satu kategori. Aktivitas perdagangan tercatat tersebar pada berbagai aset, mulai dari saham perusahaan teknologi, aset kripto, hingga komoditas logam mulia.

"Tren kuartal ini menegaskan bahwa ketersediaan pilihan aset RWA yang beragam, didukung dengan edukasi yang tepat, dapat mendorong adopsi RWA secara sehat," ujar Andy.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa aset tertokenisasi tetap merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko. Investor dinilai perlu memahami karakteristik, potensi imbal hasil, serta risiko dari masing-masing aset sebelum melakukan transaksi.

Pintu menyatakan akan terus memperkenalkan dan mengedukasi investor mengenai aset berbasis RWA sekaligus memperluas pilihan instrumen yang tersedia dengan pendekatan yang bertanggung jawab.

Pilihan Aset Tertokenisasi Semakin Beragam

Saat ini, Pintu menyediakan berbagai aset tertokenisasi yang mengacu pada saham sejumlah perusahaan global. Beberapa di antaranya adalah Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Meta, Netflix, Tesla, Alphabet, AMD, Coinbase, dan Circle.

Selain saham perusahaan global, platform tersebut juga menyediakan aset tertokenisasi yang mengacu pada komoditas, termasuk emas.

Pertumbuhan aktivitas trading pada kuartal II 2026 menunjukkan semakin beragamnya pilihan aset yang tersedia dalam bentuk token. Perkembangan ini sekaligus mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap konsep tokenisasi aset dunia nyata sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio digital.

Namun, seiring dengan pertumbuhan minat tersebut, pemahaman terhadap risiko dan karakteristik setiap instrumen tetap menjadi faktor penting bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi.

  • Aset Kripto
  • Teknologi Blockchain
  • pasar kripto
  • Investasi Global
  • Trading crypto
  • Investasi Digital
  • ETF
  • saham Amerika Serikat
  • diversifikasi portofolio
  • ETF S&P 500
  • Aset Tertokenisasi
  • Token Saham AS
  • Tokenisasi Aset
  • Saham Amerika Serikat
  • Real World Asset
  • RWA
  • ETF Nasdaq-100
  • Investor Indonesia
  • Trader Indonesia
  • Tokenized Assets

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.