Libur Sekolah Jangan Dipenuhi Les, Anak Butuh Waktu untuk Bereksplorasi
📅 Selasa, 23 Jun 2026, 18:20 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurutnya, orang tua dapat berperan sebagai "zona aman" yang memberikan rasa nyaman bagi anak tanpa harus mengawasi secara berlebihan. "Ketenangan orang tua sangat penting. Jika orang tua terlalu cemas atau terus-menerus melarang, anak bisa jadi enggan mengungkapkan ketika mereka merasa lelah atau tidak nyaman," ujarnya.
Waspadai Tanda-Tanda Dehidrasi
Selain aspek psikologis, orang tua juga perlu memperhatikan kondisi fisik anak saat beraktivitas di luar ruangan. Saskhya menjelaskan bahwa kemampuan anak mengenali sinyal tubuh, termasuk rasa haus dan kelelahan, belum berkembang sempurna. Karena itu, anak sering kali tetap bermain meski tubuhnya mulai kehilangan cairan.
Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi lebih mudah marah, rewel, terlihat lesu, atau mengalami perubahan perilaku secara tiba-tiba. Gejala tersebut dapat menjadi indikasi awal dehidrasi sebelum muncul tanda fisik yang lebih jelas seperti bibir kering atau berkurangnya frekuensi buang air kecil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kondisi tersebut, orang tua disarankan mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang teduh serta memastikan kebutuhan cairan tubuhnya terpenuhi sebelum kembali bermain.

Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima. Ia mengingatkan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi selama libur sekolah. Aktivitas bermain bebas dinilai membantu membangun kreativitas, kemandirian, dan ketahanan mental anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dorong Anak Tetap Aktif Selama Liburan
Melalui kampanye Langkah Awal #BaikUntukAnak, Cap Kaki Tiga Anak mengajak para orang tua untuk memberikan ruang bagi anak agar tetap aktif bergerak dan bereksplorasi selama masa libur sekolah. Menurut Jesica, aktivitas luar ruangan tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga membantu membangun karakter, keberanian, dan kemandirian anak.
"Kami percaya fondasi mental yang kuat terbentuk ketika anak memiliki kesempatan untuk mencoba hal-hal baru, berinteraksi dengan lingkungan, dan belajar menghadapi tantangan sesuai usianya," katanya.
Sementara itu, Saskhya menegaskan bahwa tujuan utama orang tua bukan menghilangkan seluruh risiko dari kehidupan anak, melainkan membekali mereka agar mampu menghadapi berbagai pengalaman dengan percaya diri.
"Anak menjadi tangguh bukan karena dilindungi dari segala hal, tetapi karena mereka diberi kepercayaan untuk mencoba, sambil tetap mengetahui bahwa orang tua selalu ada ketika dibutuhkan," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!