Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RI Masih Rentan terhadap Gejolak Global, BI Lanjut Menaikkan Suku Bunga Acuan

📅 Jumat, 19 Jun 2026, 00:54 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Ketika suku bunga naik, APBN berisiko semakin tersandera pembayaran bunga dan kehilangan ruang untuk membiayai investasi publik, perlindungan sosial, serta program-program produktif yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Badiul menegaskan kebijakan moneter defensif ini mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia masih terlalu ditopang instrumen suku bunga dan arus modal jangka pendek.

“Tanpa penguatan basis industri, ekspor bernilai tambah, dan pendalaman pasar keuangan, Indonesia akan terus reaktif terhadap guncangan global,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, dia juga menyayangkan sikap BI yang dinilai kurang responsif dengan kondisi domestik dan eksternal.

Seandainya, bank sentral lebih dini menaikkan suku bunga secara terukur, tentu depresiasi rupiah tidak jatuh sedalam sekarang ini, dan ongkos moneter untuk intervensi pasar tidak menggerus devisa yang terlalu besar, karena ekspektasi pasar lebih cepat terjangkar.

Fitra juga menilai jika sejak awal pemerintah tidak memasifkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Proyek Strategis Nasional (PSN) lain dengan anggaran besar, sentimen pasar tidak akan separah saat ini.

Beri Sinyal Kuat

Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi dari STIE YKPN Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga acuan BI-Rate ke level 5,75 persen merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

“Kalau BI kata Aditya sejak awal merespons tekanan global dan pelemahan rupiah dengan menaikkan suku bunga secara lebih cepat dan terukur, kebutuhan intervensi di pasar valuta asing kemungkinan tidak sebesar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Dengan demikian, cadangan devisa yang digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dapat lebih terjaga.

“Dalam kondisi seperti ini, kebijakan yang lebih dini biasanya memberi sinyal kuat kepada pasar sehingga tekanan terhadap rupiah tidak berkembang terlalu dalam,” kata Aditya.

Menurut dia, keterlambatan penyesuaian suku bunga membuat ruang kebijakan jadi lebih sempit.

Ketika pelemahan rupiah sudah berlangsung cukup dalam dan ketidakpastian global masih tinggi, BI akhirnya harus mengombinasikan instrumen suku bunga dengan intervensi pasar yang lebih intensif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Masih Ditelusuri Jumlah Pas...

Sistem Pilkada Perlu Direformasi

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Sistem Pilkada Perlu Direfo...
Daerah
Tingkatkan Kinerja, Pemkot ...

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.