Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RI Masih Rentan terhadap Gejolak Global, BI Lanjut Menaikkan Suku Bunga Acuan

📅 Jumat, 19 Jun 2026, 00:54 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Masih Rentan terhadap Gejolak Global, BI Lanjut Menaikkan Suku Bunga Acuan Doc: koran jakarta /ones

Stabilitas Moneter - Kebijakan lebih Dini Biasanya Memberi Sinyal Kuat kepada Pasar

JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate 0,25 persen atau 25 basis poin (bps) ke level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, Kamis (18/6) mengindikasikan tekanan domestik dan eksternal belum sepenuhnya terkendali.

Dalam RDG pada Mei 2026, otoritas moneter itu menaikkan BI Rate sekaligus 0,5 persen ke level 5,25 persen, disusul kenaikan 0,25 persen dalam RDG mingguan baru-baru ini.

Dengan demikian, dalam kurun waktu sebulan BI telah menaikkan suku bunga BI Rate 100 basis poin atau 1 persen dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen.

Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi yang diminta pendapatnya mengatakan kondisi itu menunjukkan perekonomian Indonesia masih rentan terhadap gejolak global.

“Stabilitas makro yang masih bergantung pada instrumen moneter defensif menunjukkan kalau perekonomian Indonesia masih sangat rentan terhadap gejolak global,” kata Badiul.

Apalagi kebijakan tersebut diambil dalam kondisi yang paradoks.

Di tengah inflasi Indonesia yang relatif rendah dan terkendali pada kisaran sasaran 2,5±1 persen, bank sentral justru menaikkan suku bunga.

Bagi Badiul, persoalan mendasar bukan lagi inflasi, melainkan lemahnya ketahanan eksternal dan dangkalnya struktur pasar keuangan domestik.

Kenaikan suku bunga paparnya hanya sebagai obat jangka pendek yang mahal.

Setiap kenaikan 25 basis poin berpotensi menekan permintaan kredit, menaikkan biaya investasi, dan memperlambat ekspansi usaha.

“Padahal ekonomi justru membutuhkan stimulus pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Dari sisi fiskal, Badiul memperingatkan bahwa stok utang pemerintah sebesar 9.658,1 triliun rupiah.

Namun persoalan utama terletak pada meningkatnya biaya pengelolaan utang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Ilmuwan Ungkap Gletser Swis...
Nasional
BMKG Prediksi Musim Hujan 2...
Advertisement
Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.