BI Catat Kredit Meledak 11,51%, Sinyal Ekspansi atau Risiko Baru?
Kamis, 18 Jun 2026, 18:10 WIBJAKARTA â Kredit perbankan merupakan salah satu indikator penting dalam menggambarkan dinamika perekonomian karena mencerminkan tingkat kepercayaan pelaku usaha dan rumah tangga terhadap prospek ekonomi.
Pertumbuhan kredit yang sehat menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi dan konsumsi, yang pada gilirannya mendorong ekspansi ekonomi.
Namun, penyaluran kredit juga perlu diimbangi dengan prinsip kehati-hatian untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi suku bunga.
Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh sebesar 11,51 persen secara tahunan (yoy) hingga Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tumbuh 9,98 persen (yoy).
âBerdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Mei 2026 masing-masing tumbuh sebesar 21,95 persen (yoy), 8,09 persen (yoy), dan 5,89 persen (yoy),â kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (18/6).
Dengan capaian tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen.
Perry menjelaskan prospek pertumbuhan didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang mencapai Rp2.576â triliun atau 22,41 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Selain itu, ia memandang kapasitas pembiayaan di perbankan masih memadai. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tercatat sebesar 24,74 persen dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,47 persen (yoy) per Mei 2026.
Selain itu, perkembangan suku bunga perbankan juga diharapkan bisa mendukung prospek kredit, yang mana pada Mei 2026 suku bunga kredit tercatat sebesar 8,72 persen dan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,26 persen.
Lebih lanjut, Perry turut memastikan sektor perbankan nasional tetap kuat dalam memitigasi risiko dampak dari perang di Timur Tengah.
"Perkembangan ini ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang terjaga rendah," ujarnya.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada April 2026 tercatat tinggi sebesar 23,97 persen, yang tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Kemudian, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,17 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto) pada April 2026.
Adapun hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik.
"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan," tambah Perry.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Dilema Filipina: Antara Kebutuhan Energi dan Sanksi Barat terhadap Russia
-
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pemerintah Mengeklaim Harga Beras Tak Naik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.