Jangan Cuma Dipakai! BI Ingatkan Rupiah Juga Harus Dihormati sebagai Simbol Negara
Jumat, 14 Agu 2026, 23:05 WIBJAKARTA â Menghormati Rupiah sebagai simbol negara bukan sekadar menjaga bentuk fisik uang, tetapi juga menegaskan kedaulatan dan kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Rupiah merupakan simbol kedaulatan sekaligus alat pembayaran yang sah di Indonesia, sehingga penggunaannya perlu dijaga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Lebih jauh, menghormati Rupiah berarti ikut memperkuat identitas ekonomi nasional dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang sendiri.
Sikap tersebut perlu diwujudkan melalui penggunaan Rupiah secara bijak, merawat uang fisik, serta tidak melakukan tindakan yang merendahkan martabat Rupiah.
Bank Indonesia (BI) mendorong masyarakat tidak sekadar menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran, tetapi juga menghargai dan memperlakukannya dengan baik sebagai simbol kedaulatan negara.
Direktur BI Budi Sudaryono mengatakan penghormatan terhadap rupiah dapat dianalogikan dengan sikap masyarakat ketika menghormati bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
âKarena kita sadar bahwa itu adalah simbol kedaulatan kita, sama seperti kita menghormati bendera Merah Putih, kita menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat, maka rupiah layak juga mendapatkan penghormatan,â kata Budi dalam diskusi Rupiah untuk Indonesia Berdaulat di Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Jakarta, Jumat (14/8).
Ia menyampaikan bahwa rupiah memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan masyarakat. Proses tersebut dimulai dari bahan baku kapas, pembuatan kertas uang, pencetakan, hingga distribusi ke berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan BI dan perbankan.
Menurut dia, panjangnya proses tersebut menjadi alasan masyarakat perlu memiliki rasa syukur dan menghargai rupiah. Terlebih, rupiah bukan sekadar lembaran kertas atau kepingan logam, melainkan simbol kedaulatan Indonesia.
Ia menekankan, rasa cinta terhadap rupiah tidak cukup hanya diwujudkan melalui penggunaan dalam transaksi. Masyarakat juga perlu memperlakukan rupiah dengan baik dan bijak.
Budi mengajak masyarakat untuk memiliki tiga sikap terhadap rupiah, yakni cinta, bangga, dan memahami cara memperlakukannya dengan bijak.
âSaya berharap kita semua punya cukup rasa syukur dan terima kasih untuk kemudian memperlakukannya dengan penuh hormat, dengan penuh cinta, banggalah dengan dia, dan pahamilah bagaimana memperlakukannya dengan bijak,â ujarnya.
Budi mengatakan penghormatan terhadap rupiah juga berkaitan dengan upaya menjaga kedaulatan moneter Indonesia. Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena tidak hanya merdeka, tetapi juga memiliki mata uang sendiri dan kewenangan untuk mengatur kebutuhan serta peredaran rupiah.
Kedaulatan tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan jumlah uang yang dibutuhkan, mengatur peredarannya hingga ke berbagai pelosok, serta menjaga kelancaran transaksi masyarakat.
Dengan sistem pembayaran yang stabil dan ketersediaan rupiah yang memadai, BI berharap stabilitas ekonomi dapat terus terjaga, termasuk mendukung pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
âTanpa rupiah yang berdaulat, kita tidak bisa memiliki darah perekonomian yang pas,â ujar Budi.
Karena itu, ia menilai penghormatan masyarakat terhadap rupiah bukan sekadar persoalan simbolik, tetapi bagian dari upaya memaknai dan menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia.
- Bank Indonesia (BI)
- kedaulatan rupiah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Wali Kota Bekasi dan Rombongan ke Tiongkok, Belajar Olah Sampah Jadi Listrik
-
Menko IPK AHY: Peresmian 5 Bendungan Perkuat Ketahanan Nasional Melalui Swasembada Pangan, Air, dan Energi
-
Iran Tidak akan mengizinkan Prancis dan Oman untuk Membersihkan Ranjau di Selat Hormuz
-
Rapat Koordinasi di DPR Bahas Pertumbuhan Ekonomi Nasional
-
Kolaborasi Pemkab dan Perusahaan Digenjot, Wisata Batu Ampar Dibangun Lebih Agresif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.