Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995
📅 Rabu, 17 Jun 2026, 00:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiNamun, kenaikan harga minyak mentah mulai meningkatkan biaya produksi dan transaksi antarperusahaan yang berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.
“Dengan ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang yang terus meningkat, terdapat risiko inflasi inti bergerak melampaui target stabilitas harga 2 persen,” tulis BoJ.
Karena itu, bank sentral menegaskan akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap melalui kenaikan suku bunga dan penyesuaian tingkat stimulus ekonomi, sambil terus memantau dampak perkembangan situasi di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi domestik.
BoJ juga mengindikasikan akan mengakhiri program pengurangan bertahap pembelian obligasi dalam skala besar setelah April tahun depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Ekonom Kebijakan Fujitsu, Martin Schulz, menilai keputusan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa BoJ mulai lebih fokus pada risiko inflasi ke depan sekaligus berupaya menstabilkan nilai tukar yen.
Menurut dia, ekspektasi inflasi yang meningkat telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mendekati 2,8 persen, level tertinggi dalam waktu yang sangat lama.
“Ini bukan hanya mencerminkan ekspektasi inflasi atau keraguan terhadap prospek pertumbuhan, tetapi juga menunjukkan menurunnya kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah,” kata Schulz.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan BoJ kini berupaya menutup kesenjangan tersebut dengan menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tetap mampu tumbuh meskipun biaya pinjaman meningkat.
Normalisasi Perdagangan
Sementara itu, kesepakatan damai antara AS dan Iran yang mengakhiri konflik selama tiga bulan membuka peluang normalisasi perdagangan energi global.
Kedua negara sepakat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Meski demikian, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat karena ratusan kapal masih tertahan dan arus perdagangan global membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Bagi Jepang, situasi tersebut sangat penting mengingat sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah negara itu berasal dari kawasan Timur Tengah sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!