Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

80 Tahun Setelah Perang Dunia II, Jerman dan Jepang Kembali Memperkuat Angkatan Bersenjatanya

📅 Senin, 15 Jun 2026, 00:02 WIB | Oleh:
80 Tahun Setelah Perang Dunia II, Jerman dan Jepang Kembali Memperkuat Angkatan Bersenjatanya Doc: Istimewa
Ket. Menteri pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi dan Menteri pertahanan Jerman, Boris Pistorius, berjalan melewati dua bendera besar negara mereka.

NEW YORK CITY - Delapan puluh tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, dua negara yang pernah menjadi kekuatan Poros, Jerman dan Jepang, kini tengah menjalani transformasi besar dalam kebijakan pertahanan mereka. Perubahan ini menandai pergeseran bersejarah bagi dua negara yang selama beberapa dekade dikenal membatasi peran militernya akibat trauma perang dan tanggung jawab atas masa lalu.

Dari The New York Timrs, di Jerman, perang Rusia-Ukraina menjadi titik balik penting. Berlin mengucurkan investasi besar untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya, termasuk melalui dana khusus senilai 100 miliar euro untuk memperkuat Bundeswehr. Langkah tersebut juga disertai komitmen memenuhi target belanja pertahanan NATO sebesar 2 persen dari produk domestik bruto. 

Sementara itu, Jepang menghadapi tantangan keamanan yang berbeda. Meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di sekitar Selat Taiwan, uji coba rudal Korea Utara, serta ketidakpastian terhadap komitmen keamanan Amerika Serikat mendorong Tokyo mengambil kebijakan pertahanan yang lebih proaktif. Pemerintah Jepang meningkatkan anggaran militer ke level tertinggi dalam sejarah modern negara itu dan memperluas kemampuan Pasukan Bela Diri.

Bagi banyak pihak, perubahan ini merupakan sesuatu yang sulit dibayangkan beberapa dekade lalu. Setelah kekalahan pada 1945, Jerman dan Jepang membangun identitas nasional baru yang menjauh dari militerisme. Konstitusi Jepang bahkan memasukkan Pasal 9 yang menolak perang sebagai hak kedaulatan negara, sementara Jerman mengembangkan budaya politik yang sangat berhati-hati terhadap penggunaan kekuatan bersenjata.

Namun, kondisi geopolitik global yang semakin tidak stabil telah mengubah cara kedua negara memandang keamanan nasional. Jika dahulu ancaman perang dianggap jauh, kini konflik di Ukraina dan meningkatnya ketegangan di Indo-Pasifik membuat pertahanan kembali menjadi prioritas utama.

Meski demikian, upaya memperkuat militer tidak berlangsung tanpa perdebatan. Di Jerman, sebagian masyarakat khawatir bahwa peningkatan belanja pertahanan dapat mengikis identitas pasifis yang dibangun sejak berakhirnya era Nazi. Di Jepang, perubahan kebijakan keamanan juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan bergesernya interpretasi terhadap semangat konstitusi damai yang telah menjadi fondasi negara selama puluhan tahun.

Para pemimpin kedua negara menegaskan bahwa penguatan militer bukanlah upaya untuk menghidupkan kembali ambisi masa lalu. Sebaliknya, langkah tersebut disebut sebagai respons terhadap ancaman keamanan baru serta bagian dari tanggung jawab untuk melindungi warga negara dan menjaga stabilitas kawasan.

Perubahan di Jerman dan Jepang menjadi salah satu tanda bahwa tatanan dunia pasca-Perang Dunia II tengah mengalami transformasi besar. Negara-negara yang dahulu identik dengan demiliterisasi kini menyesuaikan diri dengan realitas baru yang dinilai lebih berbahaya dan tidak menentu.

Delapan puluh tahun setelah senjata terdiam pada 1945, sejarah tampaknya kembali menjadi cermin bagi masa kini. Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah Jerman dan Jepang akan memiliki kekuatan militer yang lebih besar, melainkan bagaimana kedua negara memastikan bahwa pelajaran paling pahit dari Perang Dunia II tidak pernah dilupakan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...

Harga Cabai Rawit Rp105.300/Kg, Telur Ayam Rp29.700/Kg

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp105.300...
Advertisement
Presiden Prabowo Subianto dan Fadli Zon Bahas Percepatan Revitalisasi Museum dan Keraton.

Presiden Prabowo Subianto dan Fadli Zon Bahas Percepatan Revitalisasi Museum dan Keraton.

13 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.