Menyusuri Jejak Orangutan dan Keindahan Goa Sampemarta di Taman Nasional Kutai
📅 Minggu, 14 Jun 2026, 19:27 WIB | Oleh: OpikPrevab juga menawarkan keindahan suasana saat malam hari melalui atraksi penjelajahan malam. Wisatawan dapat mengamati laba-laba tarantula, tarsius, dan burung-burung yang sedang beristirahat di dahan-dahan pohon.
Meskipun hutan belantara, Prevab menyediakan fasilitas yang memadai bagi wisatwan. Di tengah rimbun pepohonan, terdapat fasilitas menginap yang dibangun dengan konsep menyatu dengan alam dan dirawat dengan baik. Bangunan dengan konstruksi ulin ini menjadi oasis yang aman bagi para pengunjung untuk merebahkan diri setelah seharian bertarung dengan peluh dan lelah. terdapat pula area yang disediakan untuk berkemah.

Area hutan Taman Nasional Kutai di Kutai Timur, Kaltim. Antara/Ahmad Rifandi
Sebaiknya Anda baca juga:
Goa Sampemarta
Keesokan harinya, ketika kabut pagi masih malu-malu mengangkat diri dari kanopi hutan, perjalanan dilanjutkan, karena Taman Nasional Kutai juga punya pesona lain.
Setelah meninggalkan Prevab Mentoko, pengunjung bisa lanjut menuju Desa Martadinata, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berkendara menuju titik awal jalur masuk kampung tersebut. Target berikutnya menuntut nyali yang berbeda. Jika kemarin menatap tajuk pohon, kini menuruni perut bumi di Goa Sampemarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada beberapa kawasan jelas menunjukkan sisa batuan karst, yaitu mempunyai sungai bawah tanah. Bahkan pada beberapa gua terdapat anak sungai yang menghilang masuk ke batu gamping.
Berbeda dengan susur sungai yang santai, mengeksplorasi Goa Sampemarta adalah kegiatan wisata minat khusus yang dikategorikan lebih menantang. Kegelapan dan medan batuan purba tidak bisa dihadapi hanya dengan modal keberanian belaka. Oleh karena itu, pendampingan ketat dari pemandu lokal yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Martadinata menjadi syarat mutlak.
Tidak hanya Pokdarwis, tim ahli pendukung dari Bontang Satria Punggawa juga diturunkan untuk memastikan protokol keselamatan berjalan sempurna. Setiap anggota rombongan diwajibkan menggunakan peralatan keselamatan standar susur gua (caving), seperti helm pelindung kepala, sepatu khusus, dan pencahayaan yang memadai.
Memasuki mulut gua bak menembus lorong dimensi waktu. Suhu udara seketika menurun drastis, digantikan oleh hawa sejuk yang lembap. Pengunjung menyusuri bagian dalam gua secara beriringan dan ekstra hati-hati selama kurang lebih 15 hingga 20 menit.
Di dalam perut bumi tersebut, di mana ketinggian atap gua mencapai sekitar empat meter, ibarat sebuah galeri seni geologis terhampar di depan mata. Cahaya senter menyorot stalaktit yang menggantung dari langit-langit, serta stalagmit yang timbul dari dasar gua, karya alam yang dihasilkan perlahan oleh tetesan air kaya mineral selama ribuan tahun.
Namun, daya tarik Sampemarta tidak berhenti pada formasi bebatuan mati. Gua ini hidup. Ada koloni kelelawar yang bergelantungan memadati langit-langit atap gua. Saat menyorot genangan air di lantai gua, tampak seekor ikan sidat berukuran besar yang meliuk tenang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!