BPS: Surplus Perdagangan RI Berlanjut 72 Bulan
📅 Jumat, 05 Jun 2026, 18:22 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar USD89,1 juta pada April 2026. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan nasional menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD25,32 miliar. Ini lebih tinggi dibandingkan impor yang sebesar USD25,21 miliar.
“Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor, maka neraca perdagangan barang untuk April 2026 mencatat surplus sebesar USD89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji, Jumat (5/6).
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026 Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD5,64 miliar. Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada April 2026 tumbuh 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD24,15 miliar atau naik 23,36 persen secara tahunan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kenaikan ekspor nonmigas didorong oleh sejumlah komoditas unggulan, antara lain lemak dan minyak hewani/nabati yang meningkat 66,59 persen, nikel dan barang daripadanya naik 75,52 persen. Serta mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 57,90 persen dibandingkan April tahun sebelumnya.
Menurut Pudji, peningkatan ekspor turut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15,45 persen secara tahunan menjadi USD1.148 per metrik ton. Selain itu, harga sejumlah komoditas mineral dan energi juga mengalami kenaikan.
Faktor lain yang mendorong kinerja ekspor adalah ekspansi sektor manufaktur di negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Hal itu tercermin dari indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang berada di zona ekspansif.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pada April, PMI manufaktur negara mitra dagang utama seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok berada pada zona ekspansif, di mana PMI India adalah 54,7. Kemudian Amerika Serikat 54,5, Jepang 55,1, dan Tiongkok 52,2,” kata Pudji.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai USD25,21 miliar atau meningkat 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor, peningkatan impor sebagian besar berasal dari kelompok bahan baku dan barang penolong yang mencapai USD18,65 miliar, naik 24,56 persen dibandingkan April 2025. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya aktivitas industri manufaktur domestik.
BPS mencatat nilai impor migas pada April 2026 sebesar USD4,60 miliar atau meningkat 82,52 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai USD20,6 miliar, tumbuh 14,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pudji menilai peningkatan impor bahan baku dan barang penolong menunjukkan kebutuhan industri dalam negeri yang semakin tinggi. Ini seiring bergeliatnya aktivitas produksi dan manufaktur nasional. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!