• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • ParagonCorp Bawa Kisah Pet...

ParagonCorp Bawa Kisah Petani Nilam Sulawesi ke Panggung Global di London

Kamis, 04 Jun 2026, 17:45 WIB

JAKARTA - Peran petani nilam Indonesia dalam memenuhi kebutuhan industri parfum dunia mendapat sorotan di tingkat internasional. Melalui ajang Partnership for Forests Conference (P4F) 2026 di London, ParagonCorp mengangkat kontribusi petani Sulawesi yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai pasok patchouli atau nilam global.

Indonesia selama ini dikenal sebagai pemasok utama nilam dunia dengan kontribusi sekitar 80 persen terhadap kebutuhan pasar internasional. Namun di balik dominasi tersebut, keberadaan petani yang mengelola komoditas bernilai tinggi itu kerap belum banyak mendapat perhatian dalam diskusi industri kecantikan global.

Ket. Foto: Peran petani nilam Indonesia dalam memenuhi kebutuhan industri parfum dunia mendapat sorotan di tingkat internasional. Melalui ajang Partnership for Forests Conference (P4F) 2026 di London, ParagonCorp mengangkat kontribusi petani Sulawesi yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai pasok patchouli atau nilam global. — Sumber: Istimewa

ParagonCorp menjadi satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang berpartisipasi dalam forum yang mempertemukan pelaku bisnis, investor, dan organisasi keberlanjutan dari berbagai negara tersebut. Dalam kesempatan itu, perusahaan menampilkan kisah rantai pasok nilam dari Sulawesi yang melibatkan lebih dari 700 petani aktif dalam jaringan yang telah mengantongi sertifikasi For Life dari Ecocert.

“Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut.”

Demikian disampaikan Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, saat menjelaskan alasan perusahaan membawa isu tersebut ke forum internasional.

Program yang dijalankan mencakup pelatihan pertanian, dukungan kesehatan dan keselamatan kerja, serta penerapan praktik budidaya yang dirancang untuk menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

Sistem budidaya nilam yang diterapkan menggunakan pendekatan regeneratif dengan pola rotasi tanaman setelah empat kali masa panen dalam kurun sekitar 15 bulan. Selain itu, limbah hasil penyulingan dimanfaatkan kembali sebagai kompos yang dikembalikan ke lahan pertanian guna membantu menjaga kesuburan tanah secara alami.

“Dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar untuk menghasilkan 1 kilogram minyak. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kerja keras para petani dalam menghasilkan bahan yang kemudian digunakan dalam berbagai produk parfum di pasar global.”

Pernyataan itu disampaikan dr. Sari untuk menggambarkan besarnya kontribusi petani dalam rantai industri wewangian dunia.

ParagonCorp menilai keberlanjutan bukan sekadar target yang dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan proses yang memerlukan konsistensi dan kolaborasi jangka panjang. Melalui keterlibatan di forum global tersebut, perusahaan berharap perhatian terhadap kesejahteraan petani, kesehatan lahan, dan transparansi rantai pasok dapat semakin meningkat.

“Bagi kami, keberlanjutan adalah perjalanan yang terus diupayakan bersama para mitra dan komunitas yang terlibat di dalamnya. Kami percaya kemajuan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang lebih berarti daripada sekadar mengejar kesempurnaan.”

Pernyataan itu menjadi penegasan komitmen ParagonCorp dalam mengembangkan industri kecantikan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.