Hadapi El Nino, Kementan Maksimalkan Puluhan Ribu Pompa Air di Lapangan

Minggu, 05 Apr 2026, 18:25 WIB

JAKARTA – Menghadapi El Nino, urusan air jadi hal yang makin krusial, terutama di sektor pertanian. Saat hujan makin jarang turun dan tanah mulai mengering, pompa air pun naik “level” jadi salah satu andalan untuk menjaga tanaman tetap hidup.

Optimalisasi pengoperasian pompa air sebenarnya bukan cuma soal menyalakan mesin, tapi bagaimana memanfaatkannya dengan lebih cerdas. Misalnya, pengaturan jadwal pemompaan supaya air digunakan di waktu yang paling efektif, seperti pagi atau sore hari saat penguapan tidak terlalu tinggi. Dengan begitu, air yang dipompa bisa benar-benar dimanfaatkan tanaman, bukan hilang percuma.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pompa alkon bantuan dari Kementerian Pertanian untuk mencegah dampak buruk dari cuaca El Nino. — Sumber: ANTARA/ HO-Kementan

Selain itu, sumber air juga jadi perhatian. Sungai, embung, atau sumur dangkal perlu dikelola dengan bijak agar tetap cukup sepanjang musim kemarau. Di beberapa daerah, petani bahkan mulai bergotong royong mengatur giliran penggunaan pompa agar distribusi air lebih merata.

Teknologi juga mulai ikut berperan. Ada yang menggunakan pompa berbasis tenaga surya untuk menekan biaya operasional, ada juga yang memanfaatkan sistem irigasi yang lebih hemat air. Semua ini dilakukan supaya penggunaan air tetap efisien tanpa mengorbankan hasil panen.

Intinya, di tengah tantangan El Nino, pompa air bukan sekadar alat bantu, tapi jadi bagian dari strategi bertahan. Dengan pengelolaan yang tepat, ketersediaan air bisa lebih terjaga, dan produktivitas pertanian tetap bisa dipertahankan meski cuaca sedang tidak bersahabat.

Kementerian Pertanian mengoptimalkan pengoperasian 80.158 unit pompa air yang telah disalurkan kepada kelompok tani untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino ekstrem mulai April 2026 guna menjaga ketersediaan air serta mendukung produktivitas pertanian nasional.

“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Andi Nur Alam Syah dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (4/4).

Dia menyampaikan berbekal pengalaman menghadapi El Nino 2023, pemerintah memperkuat langkah mitigasi dengan menitikberatkan pada kecepatan intervensi, optimalisasi sarana prasarana, serta kesiapan petani dalam memanfaatkan bantuan yang telah disalurkan.

Menurutnya, mitigasi tidak hanya berbasis perencanaan, tetapi juga kesiapan teknis di lapangan.

"Kementerian Pertanian menaruh perhatian serius terhadap potensi kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan nasional," ujarnya.

Ia menekankan pompa air yang telah diberikan melalui bantuan pemerintah bukan sekadar bantuan, melainkan instrumen produksi yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara kolektif oleh petani.

Kesiapan sumber air serta pengelolaan distribusi air di tingkat lapangan juga menjadi faktor penting agar pompa dapat bekerja secara maksimal.

“Optimalkan pemanfaatan pompa yang sudah ada. Pastikan sumber air disiapkan, saluran diperbaiki, dan distribusi air diatur dengan baik. Ini kunci agar lahan tetap produktif meskipun tekanan iklim meningkat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kementan mengimbau seluruh petani dan pemangku kepentingan daerah untuk mulai melakukan langkah antisipatif, termasuk mengidentifikasi sumber-sumber air, merapikan galengan, serta mengatur pola tanam dan pergiliran air secara efektif.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pelajaran penting dalam merumuskan strategi saat ini.

Saat itu, pemerintah dihadapkan pada ancaman kekeringan yang cukup berat, namun mampu menjaga produksi melalui berbagai intervensi cepat.

“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya. Rencana waktu itu saya masih ingat dalam Ratas kita mau impor beras 10 juta ton," kata Mentan.

"Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah, itu kita berhasil menekan impor hanya sekitar 3 juta ton,” tambah Mentan.

Menurut Mentan pengalaman tersebut menunjukkan respons cepat, pompanisasi, perbaikan irigasi, dan optimalisasi lahan menjadi faktor kunci dalam menjaga produksi dan ketahanan pangan di tengah tekanan iklim ekstrem.

Dengan potensi El Nino yang kembali menguat, Kementan memastikan seluruh jajaran telah disiagakan untuk memperkuat mitigasi di lapangan.

Pemerintah juga mengajak seluruh petani untuk tidak menunggu dampak terjadi, tetapi mulai bergerak sejak dini dengan memanfaatkan seluruh sarana yang telah tersedia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.