PMI Manufaktur Tiongkok Turun, Ekspor Komoditas RI Terancam Anjlok
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiRisiko lain mengarah ke ruang fiskal pemerintah pusat dan daerah. Badiul mengingatkan banyak daerah merasakan peningkatan Dana Bagi Hasil (DBH) sumber daya alam (SDA) karena tingginya harga komoditas beberapa tahun terakhir.
“Kalau tren pelambatan Tiongkok berlanjut 1 atau 2 kuartal ke depan, maka pemerintah perlu bersiap menghadapi normalisasi bahkan penurunan penerimaan berbasis SDA,” katanya.
Kondisi tersebut jadi pengingat bahwa ketergantungan berlebihan pada ekspor komoditas primer membuat APBN dan APBD rentan terhadap gejolak eksternal di luar kendali pemerintah.
Perlambatan ekonomi Tiongkok akan terus menjadi faktor yang mengguncang stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia setiap kali terjadi pelemahan siklus industri global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Efek Berantai
Sementara itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) Iyuk Wahyudi mengatakan perlambatan aktivitas manufaktur Tiongkok menjadi peringatan bagi Indonesia untuk mempercepat penguatan sektor ekonomi domestik dan diversifikasi pasar ekspor.
Posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia membuat setiap pelemahan aktivitas ekonomi di negara tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia, terutama yang masih bergantung pada permintaan bahan baku dan barang setengah jadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita tidak perlu panik terhadap satu data PMI, tetapi pemerintah harus waspada. Ketergantungan ekspor Indonesia terhadap pasar Tiongkok masih cukup besar, sehingga ketika aktivitas manufaktur mereka melambat, permintaan terhadap komoditas Indonesia berpotensi ikut melemah,” kata Iyuk.
Dampak terbesar jelasnya, kemungkinan tidak langsung dirasakan pada perdagangan harian, melainkan pada harga komoditas dan volume ekspor dalam beberapa bulan ke depan apabila perlambatan tersebut berlangsung secara berkelanjutan. Menurutnya, sektor seperti nikel, batu bara, CPO, dan mineral lainnya menjadi yang paling rentan karena masih bergantung pada siklus industri global.
“Persoalan utama Indonesia bukan semata-mata perlambatan Tiongkok, tetapi struktur ekspor yang masih didominasi komoditas mentah dan setengah jadi. Ketika permintaan global melemah, kita ikut terkena dampaknya karena nilai tambah terbesar masih dinikmati negara lain,” kata Iyuk.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!