Pantai Walakiri Sumba, Pesona Mangrove Menari di Kala Senja
📅 Jumat, 29 Mei 2026, 06:35 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ANTARA/Rivan Awal Lingga
PULAU Sumba di Nusa Tenggara Timur merupakan pulau yang memiliki karakter berbeda dengan pulau-pulau lainnya di kawasan itu. Dengan luas 1.0710 km persegi ini memiliki perpaduan magis antara hamparan padang savana luas mirip sabana Afrika, pantai berpasir putih yang asri, serta topografi perbukitan kapur yang bersanding harmonis dengan lestarinya budaya adat setempat.
Pantai Walakiri merupakan bagian dari keunikan itu. Berada di Sumba Timur pantai Walakiri adalah destinasi wisata unggulan kabupaten ini. Berjarak sekitar 24 km dari Kota Waingapu, pantai ini terkenal pepohonan mangrove kerdil yang tampak menari saat matahari terbenam.
Berada di sisi utara pulau menghadap Selat Sumba pantainya memiliki ombak yang tenang. Pantai yang memanjang dari barat daya menuju timur laut ini sisi baratnya berupa laut terbuka, cocok untuk berburu senja di sore hari.
Di sini ketika matahari mulai turun dan langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan. Pemandangan alam yang memukau ini yang diburu wisatawan sehingga datang pada siang hari lalu pergi sungguh tidak direkomendasikan.
Hal menarik selanjutnya adalah pohon-pohon mangrove tumbuh pendek dengan batang melengkung seperti pohon purba. Ranting-ranting yang tampak seperti tangan penari yang membeku di tengah gerakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika air laut surut saat senja tiba, kondisi ini akan memantulkan cahaya senja seperti cermin raksasa, menciptakan siluet yang begitu dramatis. Itulah Pantai Walakiri, salah satu lanskap paling ikonik di Sumba Timur.
Pantai Walakiri memang tidak semegah pantai-pantai populer dengan tebing tinggi atau ombak besar yang banyak dijumpai di pantai selatan salah satunya Nihiwatu. Destinasi ini justru memikat lewat ketenangan dan detail-detail kecil yang perlahan mencuri perhatian.
Jalan menuju pantai dari pusat Waingapu hanya sekitar 30 menit perjalanan, tetapi suasana sepanjang rute sudah memberi gambaran tentang karakter Sumba yang khas. Melalui rute ini akan dijumpai padang sabana luas, perbukitan kering, rumah-rumah penduduk beratap khas yang posisinya berjauhan. Di padang rumput itu ternak kuda yang sesekali terlihat merumput di sisi jalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat musim kemarau tiba, lanskap Sumba berubah menjadi hamparan cokelat keemasan. Rumput-rumput mengering dan angin terasa lebih panas. Namun justru pada musim inilah banyak wisatawan datang karena langit cenderung cerah dan matahari terbenam terlihat lebih dramatis. Sebaliknya, ketika musim hujan datang, wilayah ini berubah hijau dan lebih segar, menghadirkan wajah lain dari Sumba yang sama memesonanya.
Pantai berpasir putih ini berada tidak jauh dari kawasan pesisir yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Bagi warga sekitar, laut bukan sekadar panorama wisata, melainkan sumber penghidupan.
Menjelang sore, nelayan tradisional kadang terlihat kembali dari laut dengan perahu kecil bercat warna-warni. Sebagian anak-anak bermain di tepi pantai sambil berlarian mengejar ombak kecil, sementara para ibu duduk bercengkerama di bawah pohon.
Atmosfer seperti inilah yang membuat Walakiri terasa hidup, tetapi tetap tenang. Tidak ada hiruk-pikuk berlebihan. Tidak ada deretan klub pantai atau musik keras yang mendominasi suara ombak. Yang terdengar justru desir angin, percakapan pelan, serta deburan air yang lembut menyapu pasir.
Keindahan utama Pantai Walakiri terletak pada kawasan mangrovenya yang berbeda dari umumnya. Pohon-pohon kecil itu yang jumlahnya tidak seberapa itu tumbuh di area air dangkal dekat bibir pantai, memiliki tampilan seperti bonsai.
Bentuknya unik, sebagian condong ke samping, sebagian lagi melengkung tak beraturan akibat terpaan angin dan pasang surut laut selama bertahun-tahun. Ketika senja datang dan cahaya matahari berada tepat di belakangnya, mangrove tersebut berubah menjadi siluet artistik yang menjadi incaran para fotografer.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!