Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga

📅 Senin, 25 Mei 2026, 16:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
Ket. Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta.

JAKARTA – Pelemahan rupiah yang terjadi seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Fed menunjukkan masih kuatnya sensitivitas pasar keuangan domestik terhadap arah kebijakan moneter global.

Ketika peluang kenaikan suku bunga AS menguat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Kondisi ini memicu tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, melalui arus keluar modal dan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar domestik.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga mencerminkan tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menjaga inflasi impor dan biaya utang luar negeri.

Meski fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan nilai tukar jangka pendek.

Karena itu, koordinasi kebijakan moneter dan penguatan daya tarik investasi domestik menjadi penting agar volatilitas rupiah tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan, Senin (25/5), melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.717 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

“Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujarnya dalam rekaman suara di Jakarta.

Ketua The Fed Kevin Warsh sendiri dinilai berpotensi akan menaikkan suku bunga apabila inflasi masih cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Hal ini yang membuat kemungkinan besar suku bunga tetap tinggi hingga akhir tahun 2026.

Seiring dengan itu, pasar turut menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026, lalu data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti.

Sentimen lain berasal dari optimisme pasar atas kesepakatan perdamaian antara AS dengan Iran, kendati masih terdapat perselisihan terkait Selat Hormuz.

“Kita harus ingat juga bahwa apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata dia.

Adapun sentimen dari internal, menurut dia, masih disebabkan permasalahan defisit anggaran yang menjadi momok oleh pasar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Inggris Hadapi Ancaman Rese...
Nasional
RI Butuh Lebih Banyak Wirau...

Anugerah Jurnalistik KWP 2026

9 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Anugerah Jurnalistik KWP 2026

Perwakilan ICRC Temui Aung San Suu Kyi

14 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Perwakilan ICRC Temui Aung ...
Olahraga
Kabar Gembira, Reno Salampe...
Luar Negeri
Tiongkok Waspadai Risiko Ke...
Luar Negeri
Kebakaran Gudang Limbah Anc...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.