Waspada Gangguan Pasokan! Ini Strategi Indonesia Hadapi Krisis Energi Global
📅 Kamis, 21 Mei 2026, 07:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA– Memasuki fase ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global, Pemerintah Indonesia bersama Pertamina mengambil langkah antisipatif untuk meminimalkan risiko gangguan pasokan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ketegangan politik global saat ini menciptakan ketidakpastian yang dirasakan hampir seluruh negara, termasuk Indonesia.
“Dampaknya tidak hanya pada negara yang bertikai, tetapi hampir seluruh rakyat dunia. Meski begitu, Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama di tengah kondisi yang tidak menentu,” ujar Bahlil saat membuka IPA Convex ke-50 di ICE BSD City, 20-22 Mei 2026.
Menurutnya, setiap negara kini cenderung memprioritaskan perlindungan energi domestik. Untuk itu, Indonesia diarahkan Presiden untuk segera mengembangkan alternatif energi di luar bahan bakar fosil, sekaligus mengoptimalkan produksi dalam negeri ketika target lifting belum tercapai.
“Ketika lifting tidak tercapai, harus ada cara lain yang kita lakukan. Kami bersyukur, arahan Presiden jelas: cari alternatif energi dan percepat diversifikasi,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertamina menyatakan kesiapan mendukung strategi tersebut dengan memperkuat ketahanan energi melalui tiga pilar: kolaborasi strategis, akselerasi teknologi, dan optimalisasi produksi domestik.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyebut era _easy energy_ telah berakhir. Namun Indonesia masih memiliki ruang besar untuk pengembangan energi, baik konvensional maupun nonkonvensional.
“Indonesia menawarkan banyak peluang bagi investor, praktisi, dan regulator. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola risiko geopolitik yang kian meningkat, terutama di jalur perdagangan energi vital seperti Selat Hormuz,” kata Oki dalam sesi Global Executive Talk “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas” di IPA Convex 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menekankan, gangguan geopolitik berpotensi memicu volatilitas harga dan ketidakstabilan pasokan global. Karena itu, strategi mitigasi tidak cukup hanya mengandalkan diversifikasi impor. Peningkatan produksi migas dalam negeri menjadi langkah utama.
“Langkah pertama kami adalah memaksimalkan produksi minyak dan gas domestik. Ini fondasi utama menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi nasional,” ujarnya.
Pertamina juga menjadikan kemitraan dengan perusahaan energi global sebagai strategi kunci untuk berbagi keahlian dan mereduksi risiko operasional. Di sisi kebijakan, koordinasi dengan pemerintah diperlukan untuk menjaga daya tarik investasi melalui perpanjangan kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, dan insentif fiskal.
Pemanfaatan teknologi seperti supercomputer dan kecerdasan buatan dinilai penting untuk meningkatkan akurasi eksplorasi dan efisiensi operasi. Potensi besar juga terbuka pada pengembangan migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR), termasuk melalui pendekatan chemical EOR dan optimalisasi sumur produksi.
“Indonesia memiliki peluang besar. Kami mengajak investor dan engineer untuk bersama mengembangkan potensi tersebut,” tutup Oki.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!