Tekanan Rupiah yang Ekstrem, Paksa BI Agresif Naikkan BI Rate 0,5%
📅 Kamis, 21 Mei 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Setelah rupiah babak belur dan merosot tajam ke level 17.700 per dollar Amerika Serikat (AS), Bank Indonesia (BI) akhirnya mengambil langkah yang selama ini diharapkan para pelaku pasar yakni menaikkan suku bunga acuan BI Rate langsung 50 basis poin atau 0,5 persen dari level 4,75 persen menjadi 5,25 persen.
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata menilai keputusan tersebut sebagai petunjuk adanya tekanan kuat terhadap stabilitas rupiah dan inflasi di tengah gejolak global.
Menurut Aloysius, kenaikan langsung setengah persen merupakan langkah yang jarang terjadi dan biasanya berkaitan dengan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Apalagi BI sebelumnya bertahan di level suku bunga 4,75 persen selama delapan bulan. Namun, tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang semakin ekstrem akibat gejolak Timur Tengah membuat bank sentral akhirnya mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif.
“Ini menandakan gejolak nilai tukar rupiah yang makin ekstrem coba dikendalikan dengan kebijakan moneter yang agresif,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, kenaikan langsung sebesar 50 basis poin, bukan 25 basis poin seperti lazimnya, dapat menjadi indikasi bahwa BI terpaksa melakukan lompatan kebijakan karena sebelumnya terlambat mengantisipasi pelemahan rupiah.
Agresivitas bank sentral itu menunjukkan adanya antisipasi yang lemah terhadap kemungkinan nilai tukar bergerak liar dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, ia menilai kondisi tersebut juga dapat dibaca sebagai indikasi bahwa posisi independensi otoritas moneter tidak cukup kuat dalam menentukan arah suku bunga acuan.
“Bisa jadi ini menjadi bukti bahwa BI sebagai otoritas moneter sekian bulan ini dalam posisi yang tidak cukup independen sehingga harus menahan suku bunga acuan untuk tidak naik,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan, pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga impor BBM akan memperbesar ongkos impor sekaligus meningkatkan beban subsidi energi pemerintah. Jika gejolak Timur Tengah berlangsung lama, menurutnya daya tahan fiskal pemerintah untuk mempertahankan subsidi BBM akan semakin tertekan.
Karena itu, kenaikan suku bunga acuan dinilai menjadi salah satu upaya untuk menahan pelemahan rupiah agar risiko fiskal tidak semakin berat.
Secara keseluruhan, ia menilai keputusan BI dapat dibaca sebagai respons yang terlambat sehingga akhirnya harus dilakukan secara agresif, bahkan melampaui proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya 25 basis poin. Ia menilai pasar kini akan menunggu apakah kenaikan suku bunga tersebut benar-benar mampu memperkuat rupiah secara signifikan atau justru memunculkan kekhawatiran baru mengenai kondisi fiskal pemerintah dan kemungkinan kebijakan agresif lain, termasuk pengurangan subsidi BBM.
Faktor Krusial
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial untuk menopang target pertumbuhan ekonomi pemerintah pada 2027 mendatang.
Fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi perlu menjadi perhatian utama di tengah tekanan global dan potensi ketidakpastian pasar keuangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!