Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jelang Idul Adha! Geliat Bongsang Kembali Marak, Angkat Ekonomi Pengrajin dan UMKM Desa

📅 Jumat, 15 Mei 2026, 14:12 WIB | Oleh:

Permintaan bongsang naik sekitar 20 hingga 30 persen, terutama dari pedagang pasar, panitia kurban, dan komunitas masjid yang masih menggunakan wadah alami untuk distribusi daging.

“Sekarang bukan cuma untuk tahu. Banyak juga dipakai untuk daging kurban,” kata Dadang.

Lonjakan ini paling terasa pada minggu-minggu menjelang hari pemotongan kurban. Di beberapa rumah pengrajin, pekerjaan bisa berlangsung hingga larut malam. Anak-anak membantu memotong bambu, orang tua fokus menganyam, sementara ibu-ibu mengikat hasil jadi kantet.

Di saat yang sama, kebutuhan hewan kurban di Sumedang juga meningkat. Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumedang mencatat kebutuhan hewan kurban tahun ini diperkirakan naik sekitar 10 hingga 15 persen, dari 10.297 menjadi sekitar 11.000–11.800 ekor.

Jika satu ekor hewan kurban menghasilkan puluhan paket distribusi, maka pergerakan ini berarti ratusan ribu paket daging harus disalurkan ke masyarakat.

Di titik inilah, kebutuhan wadah sederhana seperti bongsang ikut terdorong naik, meski tidak tercatat sebagai komoditas utama kurban.

Di banyak desa, terutama wilayah pedalaman dan pasar tradisional, masyarakat masih memilih wadah alami karena lebih murah, mudah didapat, dan ramah lingkungan.

Sebaiknya Anda baca juga:

Semua bergerak tanpa pembagian kerja formal. Lebih seperti sistem keluarga yang sudah berjalan puluhan tahun.

Jika dihitung secara kasar, dengan produksi sentra mencapai ratusan ribu hingga jutaan bongsang per bulan, dan lonjakan permintaan hingga 30 persen saat musim kurban, maka perputaran ekonomi kerajinan ini bisa meningkat ratusan juta rupiah dalam satu siklus Idul Adha.

Namun bagi para pengrajin, angka itu tidak pernah menjadi pembahasan utama.

Yang penting adalah bambu tetap tersedia, tangan tetap bekerja, dan pesanan terus datang.

“Selama masih ada bambu, kami masih bisa kerja,” kata Dadang pelan.

Di Sumedang, tidak ada momen besar yang mengubah kehidupan pengrajin secara tiba-tiba. Tapi setiap musim membawa denyut kecil yang konsisten: Idul Adha menaikkan pesanan, harga bahan lain membuat orang kembali ke bambu, dan tradisi menjaga semuanya tetap hidup.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Lumpuh Total, Listrik di Seluruh Kuba Padam

56 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Lumpuh Total, Listrik di Se...

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam,  Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Indonesia vs Vietnam, Herdman Siapkan Formasi Terbaik.

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.