Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jelang Idul Adha! Geliat Bongsang Kembali Marak, Angkat Ekonomi Pengrajin dan UMKM Desa

📅 Jumat, 15 Mei 2026, 14:12 WIB | Oleh:
Jelang Idul Adha! Geliat Bongsang Kembali Marak, Angkat Ekonomi Pengrajin dan UMKM Desa Doc: ANTARA/Ilham Nugraha.
Ket. Sejumlah warga menganyam bambu iris menjadi sebuah wadah tradisional bernama bongsang di Andir, Sumedang Utara, Jawa Barat.

SUMEDANG - Matahari pagi di Dusun Andir, Sumedang Utara, belum sepenuhnya tinggi ketika suara khas bambu mulai terdengar dari dalam rumah-rumah panggung.

Bukan suara mesin pabrik, melainkan bunyi sederhana yang ritmis: bambu dibelah, diraut, lalu disilangkan satu per satu menjadi anyaman berbentuk keranjang kecil yang disebut bongsang.

Di salah satu rumah, Dadang Gunawan sudah duduk sejak subuh. Di tangannya, bilah bambu perlahan berubah menjadi bentuk yang ia hafal di luar kepala.

Tidak ada mesin, tidak ada cetakan, hanya keterampilan yang diwariskan dari orang tua turun-temurun dari tahun 1917, yang sebelumnya juga menerima dari generasi di atasnya.

“Di sini hampir semua belajar dari keluarga. Dari kecil sudah lihat orang tua bikin bongsang,” kata Dadang sambil tetap merapikan anyaman.

Di desa ini, waktu seperti punya ritme sendiri. Tidak ditentukan jam kerja, tetapi oleh datangnya pesanan.

Dan ritme itu berubah ketika menjelang Idul Adha. Dari tenang menjadi kejar-kejaran dengan waktu untuk memenuhi pesanan.

Biasanya, satu keluarga pengrajin mampu memproduksi sekitar 400 bongsang per hari. Namun saat menjelang Idul Adha, angka itu bisa meningkat menjadi 500 hingga 600 per hari, dengan tambahan jam kerja hingga malam.

Sebaiknya Anda baca juga:

Dalam kondisi normal, produksi satu rumah tangga bisa mencapai sekitar 10.000 hingga 12.000 bongsang per bulan, bergantung pada ketersediaan bambu dan tenaga keluarga.

Hasil itu tidak dihitung satuan kecil, melainkan diikat dalam kantet berisi 100 bongsang. Satu kantet dijual di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000, membuat satu keluarga bisa mengantongi omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta pada periode ramai.

“Kalau lagi ramai seperti sekarang, hampir tidak berhenti. Baru selesai satu pesanan, datang lagi,” ujar Dadang.

Namun di balik aktivitas rumah tangga itu, industri bongsang di Sumedang ternyata tidak sesederhana yang terlihat.

Di wilayah ini, terdapat sedikitnya 60 lebih kepala keluarga yang masih aktif sebagai pengrajin. Jika dihitung dengan rata-rata produksi 10 ribu bongsang per bulan per keluarga, maka dari satu sentra saja, perputaran produksi bisa mencapai lebih dari 160 ribu bongsang setiap bulan.

Angka ini belum termasuk desa lain seperti Cisarua, Wado, serta wilayah perbatasan lain yang juga memiliki aktivitas produksi bambu rakyat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Harga Cabai Rawit Rp73.000/Kg, Telur Ayam Rp29.550/Kg

46 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp73.000/...
Daerah
Pemkab Sigi: 787 Rumah Rusa...
Ekonomi
Pertamina Geothermal Energy...
Olahraga
Sabalenka Pimpin Persaingan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

16 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.