Temuan Jalur Cepat ke Mars Pangkas Waktu Tempuh Jadi Lima Bulan
📅 Senin, 11 Mei 2026, 07:16 WIB | Oleh: Haryo BronoKarena itu, Souza kemudian menyesuaikan pendekatannya dan mencari skenario yang lebih realistis untuk jendela oposisi Mars berikutnya, yakni pada tahun 2027, 2029, dan 2031. Dengan menggunakan analisis Lambert metode standar dalam astrodinamika untuk menghitung lintasan optimal antara dua titik di ruang angkasa serta membatasi sudut kemiringan lintasan agar tetap mendekati geometri asteroid, ia menemukan bahwa tahun 2031 menjadi peluang paling menjanjikan.
Dalam skenario tersebut, misi pulang-pergi ke Mars dapat diselesaikan hanya dalam 153 hari atau sekitar lima bulan. Rinciannya cukup ambisius: pesawat ruang angkasa akan berangkat dari Bumi pada 20 April 2031 dengan kecepatan sekitar 27 kilometer per detik, tiba di Mars pada 23 Mei.
Setelah perjalanan selama 33 hari, tinggal di permukaan selama sekitar satu bulan, kemudian kembali berangkat pada 22 Juni dan tiba kembali di Bumi pada 20 September. Jika skenario ini berhasil diwujudkan, maka total durasi misi ke Mars akan terpangkas drastis dibandingkan konsep saat ini.
Souza juga menemukan alternatif lain yang lebih realistis dari sisi kebutuhan energi. Dalam skenario ini, kecepatan peluncuran cukup sekitar 16,5 kilometer per detik, dengan total durasi misi sekitar 226 hari atau sekitar tujuh setengah bulan. Meski lebih lama, angka tersebut tetap jauh lebih singkat dibandingkan misi tradisional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai perbandingan, wahana New Horizons milik NASA yang diluncurkan pada 2006 menuju Pluto memiliki kecepatan lepas sekitar 16,26 kilometer per detik menjadikannya salah satu objek buatan manusia tercepat yang pernah diluncurkan dari Bumi.
Artinya, secara teori, teknologi pendorong untuk mendekati kebutuhan misi cepat ke Mars sebenarnya sudah pernah dicapai, meski untuk wahana tanpa awak dan tanpa kebutuhan perlambatan kompleks seperti pendaratan manusia.
Souza meyakini bahwa roket generasi baru dapat menjadi kunci untuk mewujudkan konsep ini. Ia menyebut beberapa sistem peluncur masa depan seperti Starship milik SpaceX dan New Glenn milik Blue Origin sebagai kandidat yang berpotensi menyediakan performa yang dibutuhkan.
Meski begitu, para ilmuwan mengingatkan bahwa konsep ini masih sangat teoritis. Banyak faktor teknis yang harus diperhitungkan, mulai dari desain pesawat ruang angkasa, kapasitas bahan bakar, massa muatan, perlindungan termal, hingga kemampuan sistem propulsi dan pengereman saat mendekati Mars.
Namun demikian, studi ini membuka perspektif baru dalam perencanaan misi antariksa. Alih-alih hanya mengandalkan pendekatan tradisional, para peneliti kini dapat menggunakan data orbit asteroid sebagai inspirasi untuk menemukan jalur-jalur alternatif yang lebih efisien.
Temuan tak sengaja dari sebuah asteroid yang nyaris terlupakan ini bisa saja menjadi petunjuk awal menuju era baru eksplorasi antariksa era ketika perjalanan manusia ke Mars bukan lagi misi bertahun-tahun, melainkan ekspedisi hitungan bulan. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!