PM Jepang Sebut Krisis Minyak Berdampak Besar di Asia-Pasifik
📅 Selasa, 05 Mei 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiCANBERRA – Krisis pasokan minyak global memberikan dampak “sangat besar” terhadap kawasan Asia-Pasifik, kata Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada Senin (4/5).
Dalam pernyataannya di Canberra setelah pertemuan dengan PM Australia Anthony Albanese, Takaichi mengatakan kedua negara akan merespons secara cepat untuk memastikan stabilitas pasokan energi.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan energi global. Namun, pengiriman melalui wilayah tersebut dilaporkan mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar 80 persen minyak yang melewati jalur tersebut ditujukan ke negara-negara Asia.
“Penutupan efektif Selat Hormuz telah memberikan dampak yang sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik,” kata Takaichi kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa Jepang dan Australia sepakat untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi situasi tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami menegaskan bahwa Jepang dan Australia akan terus berkomunikasi secara erat dalam merespons situasi ini dengan rasa urgensi,” ujarnya.
Takaichi juga menyampaikan bahwa kedua negara berkomitmen memperkuat kemandirian dan ketahanan energi guna menjamin pasokan yang stabil di masa depan.
Australia saat ini merupakan pemasok terbesar gas alam cair (LNG) untuk Jepang, sementara Jepang menjadi salah satu sumber sekitar 7 persen kebutuhan solar (diesel) Australia.
Kerja Sama Strategis
Dalam pertemuan tersebut, Jepang dan Australia sepakat memperdalam kerja sama di sektor energi dan mineral kritis. Kesepakatan ini dicapai saat kunjungan Takaichi selama tiga hari di Australia.
Langkah tersebut mencakup penguatan rantai pasok energi, pangan, dan mineral strategis, setelah sebelumnya kedua negara menandatangani perjanjian pertahanan penting bulan lalu.
“Australia dan Jepang mengambil langkah untuk melindungi ekonomi kami dari guncangan dan ketidakpastian di masa depan,” kata Albanese dalam pernyataannya.
“Dengan bekerja sama, kita akan menciptakan rantai pasok yang lebih aman dan tangguh yang akan memberi manfaat bagi bisnis dan konsumen Australia maupun Jepang,” tambahnya.
Perusahaan Jepang juga terus memantau perkembangan industri LNG Australia, termasuk risiko gangguan operasional dan tekanan politik terkait kebijakan ekspor.
“Seperti Jepang, kami sangat khawatir terhadap gangguan pasokan bahan bakar cair dan produk minyak olahan,” kata Albanese.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!