Produk RI Siap Libas Brand Luar! Ini Jurus Kemenperin Genjot IKM Fesyen & Kriya Go Global
📅 Rabu, 29 Apr 2026, 08:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat literasi bisnis pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor kriya dan fesyen agar mampu menangkap peluang pasar global di tengah perubahan perilaku konsumen yang kian dinamis.
Perubahan pasar saat ini tidak hanya menyentuh cara masyarakat berbelanja, tetapi juga ekspektasi terhadap nilai produk yang terus bergeser mengikuti gaya hidup. Untuk itu, Kemenperin konsisten membekali IKM kriya dan fesyen dengan pemahaman strategi bisnis yang relevan.
“Di tengah tren yang bergerak sangat cepat, pelaku industri harus jeli membaca nilai produk dari berbagai sudut. Inovasi yang lahir dari desainer, perajin, maupun produsen wajib menjawab kebutuhan pasar saat ini,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (28/4).
Menperin menilai, perajin dan desainer fesyen-kriya Indonesia sudah memiliki ide, inovasi, dan keterampilan untuk menciptakan produk bermutu tinggi. Namun, keunggulan itu perlu diperkuat dengan strategi bisnis dan riset pasar yang akurat.
“Produk fesyen dan kriya kita sebenarnya sudah setara, bahkan bisa melampaui produk luar. Yang dibutuhkan adalah strategi tepat agar bisnis IKM naik kelas,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sektor fesyen dan kriya juga menunjukkan kinerja ekspor yang menjanjikan. Sepanjang 2025, nilai ekspor mencapai USD806,63 juta, tumbuh 15,46 persen dibanding 2024.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, Ditjen IKMA rutin menggelar program peningkatan literasi, salah satunya melalui Creative Talk yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Bali.
Pada Creative Talk 1 bertema "Merancang Nilai Produk Sesuai dengan Kebutuhan Pasar" yang berlangsung 16 April 2026 di Auditorium BPIFK, akademisi, praktisi, komunitas, dan pelaku IKM membahas langsung cara merancang produk bernilai tambah tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini bagian dari strategi pemerintah meningkatkan kapasitas SDM IKM agar paham pasar dan mampu menciptakan produk bernilai tambah. Literasi bisnis dan strategi desain wajib kuat supaya produk IKM tidak hanya unggul estetika, tetapi juga kompetitif secara komersial,” kata Reni.
Punya tantangan
Menurut Reni, potensi ekonomi fesyen dan kriya Indonesia sangat besar. Tantangannya, sebagian IKM belum konsisten menghasilkan produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Karena itu, Kemenperin merancang program pembinaan berkelanjutan berupa workshop dan bimbingan teknis untuk mendongkrak daya saing.
Narasumber Creative Talk, I Made Surya Prayoga, memaparkan konsep Value Proposition Design. Ia menyoroti masih banyak pelaku usaha yang terjebak pada fitur produk, bukan manfaat nyata bagi pelanggan.
“Misalnya di fesyen, yang perlu dijual bukan sekadar pakaian murah, tetapi pakaian kerja yang nyaman dan tetap stylish untuk profesional muda,” jelasnya.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menambahkan, riset menunjukkan kegagalan bisnis sering disebabkan produk yang tidak sesuai kebutuhan pasar. Artinya, keberhasilan usaha tidak cukup ditopang kemampuan produksi. “Perajin harus menyelaraskan kreativitas dengan apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!