Bukan Sekadar Publikasi, Saatnya Riset Jadi Solusi
📅 Selasa, 28 Apr 2026, 21:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Riset yang berdampak nyata menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan riil masyarakat.
Tanpa orientasi pada implementasi, hasil penelitian berisiko berhenti sebagai publikasi semata tanpa kontribusi terhadap penyelesaian masalah sosial maupun ekonomi.
Oleh karena itu, penting mendorong riset yang berbasis kebutuhan (demand-driven), kolaboratif dengan industri dan pemerintah, serta memiliki jalur hilirisasi yang jelas.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan relevansi penelitian, tetapi juga mempercepat inovasi, efisiensi kebijakan publik, dan penciptaan nilai tambah ekonomi.
Dengan demikian, ekosistem riset perlu diarahkan tidak hanya pada keunggulan ilmiah, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan solusi yang terukur, aplikatif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan perlunya perubahan paradigma dalam pembangunan nasional, dari riset yang berorientasi pada publikasi menjadi riset yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Dan ini bukan sekadar perubahan istilah, tapi ini adalah perubahan cara berpikir, perubahan cara bekerja,” ujar Febrian dalam forum Kolaborasi Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Australia-Indonesia (KONEKSI) di Jakarta, Selasa (28/4).
Menurut dia, salah satu tantangan utama selama ini adalah kesenjangan antara dunia riset dan kebijakan. Ia menyebut banyak hasil penelitian yang berhenti sebagai publikasi dan belum bertransformasi menjadi program atau keputusan yang dapat diterapkan di lapangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui KONEKSI, Febrian menyampaikan pemerintah berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan membangun ekosistem yang mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media. Ekosistem ini diharapkan mampu memastikan riset benar-benar memberi solusi konkret bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa perencanaan pembangunan harus berbasis bukti dan ditopang sains, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan yang berjalan efektif di lapangan.
Lebih lanjut, ia menilai kemitraan Indonesia-Australia dalam KONEKSI mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“Jawaban atas tantangan global tidak bisa lahir dari satu negara saja, tetapi dari kolaborasi, kepercayaan, dan kesediaan untuk belajar satu sama lain,” katanya.
Selain itu, Febrian juga mendorong agar pengetahuan tidak bersifat eksklusif atau terpusat di kota-kota besar, melainkan hadir di daerah dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Dalam mendukung perubahan paradigma ini, Bappenas menekankan tiga langkah utama, yakni memperkuat keterhubungan antara peneliti dan pembuat kebijakan, meningkatkan mekanisme penerjemahan hasil riset menjadi kebijakan yang dapat diterapkan, serta memastikan keberlanjutan kemitraan Indonesia-Australia melalui KONEKSI.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!