Leicester Terdegradasi ke Kompetisi Kasta Ketiga, Akhiri Era Keemasan dengan Pahit
📅 Rabu, 22 Apr 2026, 08:55 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraLONDON — Nasib tragis menimpa Leicester City. Mantan juara Liga Inggris itu dipastikan terdegradasi ke kasta ketiga sepak bola Inggris setelah hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Hull City, Rabu (22/4) dini hari WIB.
Tim asuhan Gary Rowett sejatinya membutuhkan kemenangan di King Power Stadium demi menjaga peluang tipis bertahan. Namun gol penyeimbang di babak kedua dari Oli McBurnie memupus harapan tersebut dan mengirim The Foxes ke EFL League One, hanya satu dekade setelah mereka menjuarai liga Inggris.
Hull lebih dulu unggul lewat Liam Millar pada menit ke-18. Leicester merespons melalui penalti James Justin di menit ke-52, sebelum Luke Thomas membawa tuan rumah berbalik unggul dua menit berselang. Namun McBurnie memastikan hasil imbang 2-2 pada menit ke-63, sekaligus mengubur mimpi kebangkitan dramatis Leicester.
Dengan hanya dua laga tersisa, Leicester yang berada di posisi kedua dari bawah terpaut tujuh poin dari zona aman, situasi yang memastikan degradasi mereka. Ini menjadi penurunan mengejutkan setelah dalam lima tahun terakhir klub mengalami kemerosotan drastis.
“Kami harus belajar. Klub ini harus menerima bahwa ini adalah bagian pahit dari perjalanan sebuah tim,” ujar Rowett.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tidak lama berselang kami menjuarai Premier League, itu momen luar biasa bagi semua orang. Kini, kami juga harus jujur bahwa ini adalah titik terendah yang sangat mengecewakan.”
Degradasi ini merupakan yang ketiga dalam empat musim terakhir, setelah Leicester sebelumnya terlempar dari Premier League pada tahun 2023 dan 2025. Padahal, pada 2016 mereka mencatat sejarah dengan menjuarai liga di bawah arahan Claudio Ranieri, diperkuat pemain seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan N'Golo Kante.
Setelah itu, Leicester sempat mencapai perempat final Liga Champions dan menjuarai Piala FA pada 2021. Namun masa keemasan tersebut kini tinggal kenangan, dengan klub harus bersiap menghadapi tim-tim seperti Bromley, Mansfield, dan Wycombe musim depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rowett menegaskan degradasi ini adalah akumulasi kegagalan sepanjang musim.
“Ini bukan soal tiga atau empat pertandingan. Anda terdegradasi karena performa sepanjang musim. Klub harus bangkit, tetapi juga belajar dari kesalahan karena musim ini penuh penyesalan,” katanya.
Krisis Leicester tak hanya terjadi di lapangan. Masalah finansial membuat mereka terkena pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan pengeluaran. Kepergian Vardy pada akhir musim lalu juga memutus kaitan terakhir dengan generasi juara.
Sejumlah pergantian pelatih turut memperburuk situasi. Setelah Ranieri dipecat tak lama usai meraih gelar, Leicester kesulitan menemukan stabilitas meski sempat ditangani Brendan Rodgers, yang membawa klub meraih Piala FA dan finis lima besar.
Upaya membangun ulang di bawah Marti Cifuentes gagal sebelum ia dipecat pada Januari, disusul masa transisi di bawah Andy King hingga akhirnya Rowett ditunjuk pada Februari—namun hanya mampu meraih satu kemenangan dari 12 laga.
Kesalahan manajemen di level direksi menjadi faktor utama keterpurukan Leicester menuju League One, menandai salah satu kejatuhan paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!