Liga Inggris: Sejarah Berulang, Arsenal Goyah Saat City Melaju Kencang Menuju Gelar
📅 Senin, 20 Apr 2026, 08:53 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraMANCHESTER — Bayang-bayang laju tak terbendung Manchester City kembali menghantui Arsenal. Kekalahan 1-2 di Etihad Stadium, Senin (20/4) dini hari WIB, memberi pukulan telak bagi ambisi The Gunners meraih gelar Liga Inggris pertama dalam 22 tahun terakhir.
Tim asuhan Mikel Arteta memang masih bertengger di puncak klasemen untuk sementara. Namun posisi itu sangat rapuh dan berpotensi direbut City, yang memiliki satu laga tunda, saat bertandang ke markas Burnley pada hari Rabu.
Sebelum tumbang dari City di ajang Piala Liga bulan lalu, Arsenal hanya menelan tiga kekalahan dari 49 pertandingan musim ini. Akan tetapi, performa mereka merosot tajam dengan hanya satu kemenangan dalam enam laga terakhir, termasuk empat kekalahan beruntun di kompetisi domestik. Ancaman mengakhiri musim tanpa trofi pun kembali menghantui.
Bagi para pendukung Arsenal, situasi ini terasa seperti pengulangan sejarah pahit. Dalam tiga musim terakhir, mereka selalu finis sebagai runner-up. Pada musim 2022/23 dan 2023/24, tim racikan Pep Guardiola sukses menyalip Arsenal di fase krusial. Sementara musim lalu, The Gunners harus mengakui keunggulan Liverpool yang bangkit.
Kini, pola serupa kembali terlihat. City justru menemukan performa terbaik saat momen penentuan tiba, sementara Arsenal kehabisan tenaga di garis akhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Guardiola mencatat rekor impresif dengan 31 kemenangan dari 39 pertandingan liga pada bulan April, dalam upayanya meraih gelar ketujuh selama satu dekade di Manchester. Sebaliknya, Arteta hanya mengemas 11 kemenangan dari 27 laga liga di bulan yang sama sepanjang masa kepemimpinannya.
Meski kalah, Arteta menilai timnya kurang beruntung dalam laga dengan margin tipis tersebut. Arsenal tampil berani dan tak gentar meski tertinggal lebih dulu lewat gol indah Rayan Cherki.
Mereka mampu menyamakan kedudukan dengan cepat ketika Kai Havertz memblok sapuan Gianluigi Donnarumma. Peluang lain pun tercipta, termasuk tembakan Eberechi Eze yang hanya membentur tiang dan bergulir di garis gawang, serta sundulan Gabriel Magalhaes yang juga mengenai tiang di penghujung laga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, Arsenal harus menyalahkan diri sendiri atas kegagalan berulang yang tak kunjung diperbaiki. Havertz membuang dua peluang emas di babak kedua—gagal dalam situasi satu lawan satu sebelum menanduk bola melebar saat tak terkawal di masa tambahan waktu. Arteta pun terlihat jatuh berlutut di area teknis, mengekspresikan keputusasaan.
Dalam kondisi kebugaran yang belum sepenuhnya pulih, Havertz tetap dimainkan penuh, sementara Viktor Gyokeres baru dimasukkan di menit-menit akhir. Penyerang asal Swedia itu didatangkan untuk menjawab kebutuhan Arsenal akan striker tajam, dan sejauh ini menjadi top skor klub dengan 18 gol di semua kompetisi. Namun, ia belum sepenuhnya meyakinkan saat menghadapi lawan papan atas.
Di sisi lain, City kembali menunjukkan ketajaman khas mereka. Arteta mengakui perbedaan utama terletak pada efektivitas di kedua kotak penalti.
“Kami menunjukkan bahwa kami ada di level ini, tetapi kenyataannya ada perbedaan di kedua kotak penalti,” ujar Arteta. “Itulah yang membedakan kedua tim—penyelesaian akhir.”
Bagi Guardiola, kehadiran penyerang kelas dunia menjadi faktor penentu. Erling Haaland, yang sempat dikawal ketat, berhasil mencuri ruang untuk mencetak gol kemenangan—gol ke-47-nya musim ini untuk klub dan negara.
Mantan kapten Arsenal, Patrick Vieira, menilai perbedaan kualitas individu sangat menentukan hasil akhir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!