IMF, Bank Dunia, dan IEA Desak Negara-negara Hentikan Penimbunan Energi
📅 Rabu, 15 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiWASHINGTON DC – International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB), dan International Energy Agency (IEA) pada Senin (13/4), mendesak negara-negara untuk tidak menimbun pasokan energi maupun memberlakukan pembatasan ekspor yang berpotensi memperburuk guncangan besar di pasar energi global.
Di tengah konflik geopolitik yang mengganggu distribusi energi, ketiga lembaga tersebut menekankan pentingnya menjaga kelancaran arus pasokan agar stabilitas pasar tetap terjaga.Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah mengganggu distribusi energi dunia. Kepala IEA, Fatih Birol, mengatakan beberapa negara mulai menahan stok energi dan menerapkan pembatasan ekspor, yang justru memperparah ketidakseimbangan pasar.
Seperti dikutip dari The Straits Times, Fatih mengimbau agar negara-negara membiarkan pasokan energi tetap mengalir secara normal untuk menjaga stabilitas global.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, juga mengingatkan dampak serius kebijakan tersebut, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
“Prinsip pertama yang harus diterapkan adalah: jangan menerapkan pembatasan ekspor yang hanya memperburuk ketidakseimbangan,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memperburuk pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan inflasi global.
Situasi semakin memburuk setelah militer Amerika Serikat (AS) memulai blokade terhadap kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran pada 13 April, sementara Teheran mengancam akan membalas dengan menargetkan pelabuhan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Ketegangan ini menyebabkan harga minyak kembali melonjak di atas 100 dollar AS per barel.
Selain itu, tidak adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair—menjadi faktor utama meningkatnya kekhawatiran pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fatih Birol sebelumnya menyebut konflik ini sebagai gangguan energi global terburuk dalam sejarah modern. Hingga saat ini, lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah dilaporkan mengalami kerusakan.
“Skala masalahnya sangat besar, dan negara-negara akan menderita akibat hal ini, beberapa lebih banyak dibandingkan yang lain, tapi saya dapat memberitahu Anda... tidak ada negara yang kebal,” katanya.
Ketiga lembaga internasional tersebut menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dalam merespons dampak konflik. Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, harga minyak telah melonjak sekitar 50 persen, disertai kenaikan harga gas dan pupuk yang memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan global serta potensi hilangnya lapangan kerja.
“Kami menyadari bahwa ketika kami bertindak bersama, dampak tindakan kami akan lebih tinggi. Kami lebih efisien, kami paling membantu keanggotaan,” kata Georgieva.
Butuh Waktu
IMF dan Bank Dunia juga memperingatkan bahwa situasi masih sangat tidak menentu. Bahkan jika jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, dibutuhkan waktu bagi pasokan global untuk kembali ke tingkat sebelum konflik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!